Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Disorot Financial Times soal Pilpres 2029, Dedi Mulyadi Malah Akui Banyak Kekurangan

        Disorot Financial Times soal Pilpres 2029, Dedi Mulyadi Malah Akui Banyak Kekurangan Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tengah mendapat sorotan media Inggris, Financial Times (FT), yang mengulas popularitasnya dan mengaitkannya dengan percakapan politik menuju Pilpres 2029. Namun, saat ditanya mengenai laporan tersebut, Dedi justru memilih tidak membahas peluang politik nasional dan mengaku masih memiliki banyak kekurangan dalam memimpin Jawa Barat.

        Dedi menyampaikan apresiasi kepada pihak yang memberikan penilaian positif terhadap dirinya. Di sisi lain, ia menegaskan masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Jawa Barat.

        “Saya mengucapkan terima kasih pada siapapun yang mengapresiasi saya itu. Tetapi, saya hari ini kan pasti banyak kekurangan-kekurangan yang dimiliki. Terus kemudian kita akan terus memberikan yang terbaik layanan bagi masyarakat Jawa Barat,” kata Dedi saat diwawancarai di Bandung, Kamis (24/9/2026).

        Alih-alih merespons spekulasi mengenai panggung politik nasional, Dedi kemudian menjelaskan pola komunikasinya dengan masyarakat Jawa Barat. Menurut dia, interaksi langsung melalui media sosial membuat pemerintah bisa lebih cepat mengetahui berbagai persoalan yang muncul di tengah warga.

        “Jadi memang pola interaksi langsung pemimpin dengan masyarakat melalui media sosial hari ini memang di Jawa Barat sudah berjalan. Jadi saya setiap hari melihat apa sih yang terjadi perkembangan di lingkungan,” ungkap Dedi.

        Bagi Dedi, tingginya interaksi dengan masyarakat juga menunjukkan karakter warga Jawa Barat yang semakin kritis terhadap berbagai persoalan. Aduan yang muncul melalui media sosial kemudian dapat menjadi informasi awal bagi pemerintah untuk mengetahui masalah yang membutuhkan respons.

        Ia mencontohkan aduan warga mengenai biaya pengobatan yang tidak tercover BPJS. Menurut Dedi, pola komunikasi tersebut membuat dirinya dapat memantau persoalan yang dialami masyarakat tanpa harus menunggu laporan melalui jalur birokrasi formal.

        Sorotan terhadap aktivitas Dedi di media sosial sebelumnya menjadi salah satu bagian yang dibahas Financial Times. Media tersebut menyoroti bagaimana aktivitas digital Dedi membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus membuat namanya semakin dikenal di luar Jawa Barat.

        Dalam laporan bertajuk “Is this Indonesia’s next president?” yang terbit 21 September 2026, FT membahas meningkatnya popularitas Dedi dan menempatkannya dalam percakapan mengenai figur yang diperhitungkan menjelang Pilpres 2029. Namun, laporan tersebut juga mencatat bahwa Dedi belum mengonfirmasi keinginan untuk maju dalam pemilihan presiden mendatang.

        FT juga menyoroti aktivitas Dedi yang rutin menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan warga, termasuk ketika menangani berbagai aduan dan persoalan di lapangan. Pola tersebut disebut menjadi salah satu faktor yang memperluas pengenalannya hingga tingkat nasional.

        Sorotan tersebut muncul ketika Dedi masih menjalankan pemerintahan di Jawa Barat. Dalam beberapa bulan terakhir, ia juga aktif merespons persoalan daerah, mulai dari infrastruktur hingga tata kelola keuangan pemerintah daerah.

        Baca Juga: Nyali KDM Ciut Menuju 2029? Pengamat Ragukan Dedi Mulyadi Ikuti Jejak Pembangkangan Jokowi

        Salah satu contoh terbaru terlihat ketika Dedi merespons persoalan jalan rusak di Kabupaten Garut. Ia menyoroti alokasi anggaran pembangunan jalan yang dinilai timpang dan meminta pemerintah kabupaten melakukan perubahan APBD agar kebutuhan infrastruktur masyarakat lebih diperhatikan.

        Dedi juga tengah menghadapi persoalan fiskal Jawa Barat, termasuk opsi pinjaman daerah Rp3,4 triliun. Namun, ia menegaskan tidak ingin mencairkan pinjaman tersebut secara terburu-buru karena harus menghitung kemampuan kas, belanja wajib, serta proyek yang sudah terikat kontrak.

        Di tengah berbagai sorotan tersebut, Dedi memilih mengembalikan pembicaraan kepada tugasnya sebagai kepala daerah. Ia juga tidak hanya mengucapkan terima kasih kepada warga yang memberikan apresiasi, tetapi menyebut kritik yang datang setiap hari sebagai sesuatu yang juga perlu diterima.

        “Ya kita ngucapin terima kasih pada yang mengapresiasi saya. Saya juga bukan hanya yang mengapresiasi, yang mengkritik saya tiap hari juga saya ngucapin terima kasih,” pungkas Dedi.

        Sorotan Financial Times terhadap popularitas Dedi belum otomatis menjadi pernyataan bahwa dirinya akan maju dalam Pilpres 2029. Untuk saat ini, Dedi justru memilih menempatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat Jawa Barat sebagai fokus utama ketika namanya mulai dibawa ke percakapan politik nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Bagikan Artikel: