Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Banggar Tantang Pemerintah Jaga Rupiah di Rp17.500

        Banggar Tantang Pemerintah Jaga Rupiah di Rp17.500 Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah mengatakan asumsi kurs Rp17.500  menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan APBN 2027. Menurutnya, pemerintah perlu menjaga stabilitas rupiah agar tekanan terhadap nilai tukar tidak semakin besar.

        “Rupiah kita asumsikan Rp17.500. Kita berharap tentu saja dengan orkestrasi kebijakan moneter, fiskal dan sektor riil, rupiah bisa kita jaga,” ujar Said dalam pembahasan APBN 2027.

        Said menjelaskan, pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga dapat memberikan tekanan terhadap fiskal dan sektor riil. Karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan APBN tahun depan.

        “Kalau rupiah mengalami depresiasi, tentu akan memberikan tekanan terhadap fiskal dan sektor riil kita. Karena itu, bagaimana kita menjaga rupiah ini menjadi penting,” kata Said didepan Para jajaran Pemangku Kepentingan.

        Asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS tersebut telah disepakati sebagai salah satu asumsi dasar ekonomi makro APBN 2027. Selain nilai tukar, pemerintah dan DPR menetapkan pertumbuhan ekonomi 6%, inflasi 2,5%, tingkat bunga SBN tenor 10 tahun 6,9%, serta ICP US$75 per barel.

        Dengan posisi rupiah yang berada di sekitar Rp18.000, terdapat jarak sekitar Rp500 dari asumsi yang dipatok dalam APBN 2027. Kondisi ini membuat stabilitas nilai tukar menjadi salah satu tantangan pemerintah dalam menjaga agar pelaksanaan anggaran tetap sesuai dengan asumsi yang telah ditetapkan.

        Said juga menekankan bahwa target pertumbuhan ekonomi 6% tidak bisa hanya mengandalkan belanja pemerintah. Pertumbuhan perlu ditopang oleh investasi, industrialisasi, peningkatan ekspor bernilai tambah, serta penguatan sektor swasta.

        Menurutnya, penguatan sektor riil juga penting untuk membantu perekonomian menghadapi tekanan eksternal. Dengan demikian, kebijakan fiskal dan moneter perlu berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi dan investasi.

        Baca Juga: Rupiah Melemah, IHSG Ambruk 2%, Airlangga Cuma Bilang: Namanya Juga Market

        Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.981 per USD di Tengah Pengesahan UU APBN 2027

        Di sisi fiskal, APBN 2027 menetapkan pendapatan negara sebesar Rp3.435,1 triliun. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp4.106,26 triliun dengan defisit anggaran dijaga sebesar 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

        Dengan postur tersebut, perkembangan rupiah akan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pemerintah sepanjang pelaksanaan APBN 2027. Terlebih, asumsi kurs Rp17.500 ditetapkan ketika nilai tukar di pasar masih berada di sekitar Rp18.000 per dolar AS.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: