Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekonomi Desa Digenjot, Pupuk Kaltim Integrasikan Pertanian, Peternakan hingga Energi

        Ekonomi Desa Digenjot, Pupuk Kaltim Integrasikan Pertanian, Peternakan hingga Energi Kredit Foto: Pupuk Kaltim
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) mengembangkan ekosistem agribisnis terintegrasi melalui program Pengembangan Kawasan Terpadu Berbasis Integrasi Sistem Agroenergi (PKT BISA) di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

        Program tersebut mengintegrasikan pertanian, peternakan, perikanan, pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam satu rantai ekonomi. Model ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan nilai tambah dari potensi ekonomi desa.

        Direktur Utama Pupuk Kaltim Rafli Yandra mengatakan PKT BISA dikembangkan sejak 2021 dengan pendekatan ekonomi sirkular. Dalam model tersebut, limbah dari satu aktivitas ekonomi dimanfaatkan sebagai input bagi aktivitas lainnya.

        "Utamanya adalah meningkatkan kapasitas masyarakat, menciptakan nilai tambah dari potensi lokal, serta membangun sistem yang dapat terus berjalan setelah intervensi program. Pupuk Kaltim mengembangkan PKT BISA dengan pendekatan ekonomi sirkular untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat," ujar Rafli, Selasa (29/9/2026).

        Salah satu pengembangan terbaru program tersebut adalah pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan untuk menghasilkan biogas. Energi yang dihasilkan digunakan untuk mendukung pengeringan hasil pertanian, kegiatan produktif UMKM, serta kebutuhan energi rumah tangga masyarakat rentan di sekitar kawasan.

        Dengan skema tersebut, limbah tidak hanya diposisikan sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

        Dari sisi pertanian, PKT BISA juga mendorong peningkatan produktivitas melalui pendampingan Agrosolution. Pada 2025, petani di Babadan tercatat mampu meningkatkan intensitas panen hingga empat kali dalam setahun.

        Dalam satu periode, produksi padi mencapai 70 ton dari lahan 10 hektare, kacang tanah 5 ton dari 1,1 hektare, serta jagung 81 ton dari 8 hektare. Total lahan yang mendapat pendampingan mencapai 19,1 hektare.

        Pendampingan mencakup pengolahan lahan, pemupukan berimbang, pengendalian hama, pengembangan usaha, hingga akses pasar.

        Selain pertanian, integrasi dilakukan melalui sektor peternakan dan perikanan. Hasil perikanan dikembangkan menjadi produk olahan sehingga tidak berhenti sebagai komoditas primer. Sejumlah produk UMKM Babadan juga telah dipasarkan ke luar daerah.

        "Prinsip yang kami dorong adalah bagaimana potensi yang ada di desa dapat saling terhubung. Limbah dari satu aktivitas dapat menjadi input bagi aktivitas lainnya, sehingga tercipta siklus yang memberi manfaat kembali bagi masyarakat," kata Rafli.

        Model tersebut menjadi bagian dari upaya Pupuk Kaltim memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

        Ke depan, perusahaan memproyeksikan PKT BISA berkembang menjadi pusat agroedukasi terpadu. Pupuk Kaltim juga berencana memperluas jaringan pemasaran produk masyarakat dan membuka peluang replikasi program di wilayah lain.

        Baca Juga: Pupuk Kaltim Serahkan Mini ICU ke Kodam, Perkuat Penanganan Pasien RS TNI AD Balikpapan

        Baca Juga: Gandeng KLH, Pupuk Kaltim Turun Tangan Tangani Dampak Karhutla

        Baca Juga: Pupuk Kaltim Bidik Ekonomi Lokal Tanah Datar, Pendidikan hingga Pertanian Disasar

        Atas program tersebut, Pupuk Kaltim meraih predikat Gold pada CSR & PDB Awards 2026 dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT).

        Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Riza Patria mengatakan keterlibatan dunia usaha melalui program CSR dapat melengkapi pembangunan pemerintah, khususnya dalam meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat desa.

        "Program CSR yang mampu melibatkan masyarakat secara aktif dan mengembangkan potensi lokal tidak hanya memberikan manfaat bagi warga desa, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih produktif dan berkelanjutan," ujar Riza saat penyerahan penghargaan di Kantor Kemendes PDT, Jakarta, Senin (28/9/2026).

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: