Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Berbalik Menguat Usai Sempat Tertekan, Ditutup di 6.036,88

        IHSG Berbalik Menguat Usai Sempat Tertekan, Ditutup di 6.036,88 Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan Jumat (2/10/2026) di zona hijau, setelah sempat bergerak melemah sepanjang perdagangan.

        Berdasarkan data perdagangan, IHSG ditutup di level 6.036,88. Angka ini naik 27,38 poin atau 0,46% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

        Sepanjang perdagangan, IHSG sempat tertekan hingga menyentuh level terendah 5.979,98. Namun, indeks kemudian berbalik menguat dan mencapai level tertinggi 6.053,23.

        Pergerakan saham masih cukup berimbang. Sebanyak 319 saham tercatat menguat, sementara 337 saham melemah dan 134 saham lainnya stagnan.

        Aktivitas perdagangan juga berlangsung cukup ramai. Total volume transaksi mencapai 121,54 miliar saham dengan nilai transaksi Rp12,25 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,62 juta kali.

        IHSG Sedang Diuji di Level 6.000

        Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, IHSG diperkirakan kembali menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Phintraco Sekuritas menilai pergerakan indeks masih akan dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan sejumlah data ekonomi penting.

        Dari pasar global, indeks-indeks utama Wall Street ditutup menguat terbatas pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Penguatan tersebut didorong oleh penurunan imbal hasil (yield) US Treasury, meski harga minyak mentah justru mengalami kenaikan.

        Harga minyak menguat setelah muncul laporan bahwa kapal induk Amerika Serikat akan tiba di kawasan Timur Tengah pada akhir November. Kondisi tersebut menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar karena berpotensi meningkatkan ketidakpastian geopolitik.

        Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada di zona ekspansi. ISM Manufacturing PMI tercatat turun tipis menjadi 54,5 pada September 2026.

        Pelaku pasar juga akan mencermati data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat (2/10). Nonfarm payrolls diperkirakan hanya bertambah 90.000 pada September, turun dari 162.000 pada Agustus.

        Baca Juga: IHSG Sempat Anjlok di Bawah 6.000, Said Didu Sindir Suahasil: Katanya Penyelamat Negara

        Baca Juga: IHSG Dibuka Naik 23,58 Poin ke Level 6.033,08 pada Akhir Pekan

        Baca Juga: Danantara Bidik 5%-10% Saham, BEI: Belum Ada Pengajuan

        Dari dalam negeri, sentimen ekonomi relatif ditopang oleh data makro yang dirilis pada Kamis (1/10). Inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,28% secara tahunan pada September 2026. Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 membukukan surplus US$3,55 miliar.

        Di pasar komoditas, harga minyak Brent ditutup menguat 4,4% menjadi US$102 per barel. Sementara harga emas spot naik 0,4% ke level US$4.171 per troy ounce.

        Penurunan yield obligasi AS menjadi salah satu sentimen positif bagi pasar saham. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun 5 basis poin ke level 5,243%.

        Meski demikian, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih akan menghadapi tekanan untuk kembali menembus level yang lebih tinggi. Indeks diproyeksikan menguji kembali level psikologis 6.000 pada perdagangan hari ini.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: