- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Harga Minyak Naik Jadi US$103 per Barel, Serangan Houthi ke Fasilitas Aramco Picu Kekhawatiran Pasokan
Kredit Foto: Kementerian ESDM
Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (5/10/2026), setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim melancarkan serangan rudal balistik dan drone terhadap sejumlah fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi.
Serangan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan produksi minyak Arab Saudi, yang merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dunia. Investor kembali mencermati risiko geopolitik yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik 81 sen atau 0,79% menjadi US$103,06 per barel pada pukul 22.02 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 46 sen atau 0,50% menjadi US$91,57 per barel.
Serangan Houthi tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara kelompok tersebut dan Arab Saudi. Sehari sebelumnya, kelompok Houthi menyatakan telah menargetkan fasilitas Aramco di Riyadh menggunakan rudal balistik dan drone.
Saksi Reuters sebelumnya melaporkan adanya kepulan asap dan api yang terlihat di sekitar fasilitas Aramco di Riyadh. Namun, saat itu belum ada konfirmasi dari otoritas Arab Saudi mengenai adanya serangan maupun dampak terhadap fasilitas minyak tersebut. Aramco juga belum memberikan tanggapan.
Kekhawatiran pasar semakin besar karena Khurais merupakan salah satu wilayah penting dalam produksi minyak Arab Saudi. Setiap gangguan terhadap infrastruktur energi di negara tersebut berpotensi memberikan tekanan baru terhadap pasokan minyak global.
Eskalasi juga berlangsung ketika pemerintah Yaman yang diakui secara internasional melancarkan operasi militer besar untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Konflik tersebut memiliki dimensi strategis karena kelompok Houthi sebelumnya berhasil menguasai kawasan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting bagi perdagangan global.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Kemenkeu Evaluasi Beban Subsidi APBN
Baca Juga: SKK Migas: Kebutuhan Minyak Pada 2030 Naik 124 Persen
Arab Saudi sendiri dilaporkan tengah menyiapkan operasi terhadap Houthi dengan salah satu tujuan mengamankan kembali jalur pelayaran Laut Merah dan membalikkan kemajuan kelompok tersebut di kawasan Bab el-Mandeb.
Perkembangan tersebut membuat pasar minyak menghadapi kombinasi risiko geopolitik dan gangguan logistik. Jika serangan terhadap infrastruktur energi meluas atau mengganggu produksi secara signifikan, harga minyak berpotensi kembali mendapatkan tekanan ke atas.
Di sisi lain, Arab Saudi dan negara-negara OPEC+ pada Minggu (4/10) sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November. Kebijakan tersebut menunjukkan belum adanya perubahan besar terhadap pasokan yang ditetapkan kelompok produsen minyak tersebut.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: