Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Membedah Buku 'The Architecture of Risk', Membedakan Keberanian Mengambil Risiko dan Kenekatan

        Membedah Buku 'The Architecture of Risk', Membedakan Keberanian Mengambil Risiko dan Kenekatan Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mengambil risiko tidak selalu berarti bertindak tanpa rasa takut. Ada perbedaan antara keberanian yang lahir dari perhitungan dan kenekatan yang berjalan tanpa persiapan. Gagasan itulah yang menjadi salah satu benang merah dalam buku "The Architecture of Risk" karya Renaldy Pujiansyah yang ditulis melalui perspektif jurnalis Mima Safa dan catatan personal Renaldy.

        Buku tersebut tidak menempatkan perjalanan hidup Renaldy sebagai kisah sukses yang bergerak lurus dari kesulitan menuju pencapaian. Sebaliknya, pembaca diajak melihat bagaimana keputusan, keberhasilan, kegagalan, dan pengalaman hidup secara bertahap membentuk cara seseorang memahami risiko.

        Dalam bab Risk Taker, Renaldy menggunakan analogi perjalanan untuk membedakan keberanian dengan kenekatan. Seseorang yang berani tetap mengambil risiko, tetapi memahami tujuan, memetakan jalan, serta memperhitungkan berbagai kemungkinan sebelum menentukan langkah.

        Sebaliknya, kenekatan digambarkan sebagai tindakan yang dilakukan tanpa persiapan. Dari pemikiran tersebut, judul "The Architecture of Risk" mendapatkan maknanya. Risiko tidak sekadar diambil, tetapi perlu dibaca, dipetakan, diperhitungkan, kemudian dipilih.

        Namun, perhitungan tidak selalu berujung pada keberhasilan. Buku ini juga membawa pembaca pada fase ketika keputusan yang telah diambil justru berakhir dengan kegagalan.

        Hal tersebut tergambar dalam bab Retak dari Dalam. Sejumlah hal yang telah dibangun Renaldy mengalami keruntuhan. Kegagalan bisnis tidak hanya membawa konsekuensi finansial, tetapi juga berdampak pada sisi personal.

        Pada titik itu, keberanian mengambil keputusan berubah menjadi keberanian menghadapi konsekuensi. Risiko tidak lagi hanya berbicara tentang keberanian untuk melangkah, tetapi juga kesiapan menerima kemungkinan ketika keputusan yang diambil ternyata keliru.

        Perjalanan dalam buku kemudian bergerak ke berbagai tema lain, mulai dari kepemimpinan, relasi, spiritualitas hingga pembangunan bisnis. Pengalaman tersebut melahirkan sejumlah kerangka berpikir, termasuk hierarki data, informasi, strategi, teori hingga kebijaksanaan.

        Gagasan lain yang turut muncul adalah Perception Economy dalam pembahasan Opinix. Berbagai gagasan tersebut menjadi bagian dari cara Renaldy melihat pengalaman dan keputusan yang membentuk perjalanan hidupnya.

        Salah satu karakteristik "The Architecture of Risk" adalah penggunaan dua perspektif. Mima Safa menghadirkan pendekatan jurnalistik dalam merekam perjalanan Renaldy, sementara sejumlah bagian diisi dengan tulisan personal Renaldy.

        Tulisan-tulisan seperti Kalau Sudah Besar, Catatan Rantau, Gelap Itu Temanku, Kursi Paling Sepi, hingga Legacy memberikan ruang bagi pembaca untuk melihat perjalanan tersebut dari sudut pandang yang lebih personal.

        Karena itu, buku ini tidak sepenuhnya dapat ditempatkan sebagai biografi, buku bisnis, maupun memoar. Ketiga pendekatan tersebut bertemu dalam satu rangkaian perjalanan yang membahas keputusan, risiko, kegagalan, kepemimpinan, dan cara memandang masa depan.

        Pada akhirnya, pembahasan tentang keberanian, kegagalan, bisnis, dan kepemimpinan mengarah pada satu pertanyaan yang lebih mendasar: “Untuk apa saya ingin sukses?”

        Renaldy memberikan jawaban singkat: “Untuk memiliki pilihan.”

        Jawaban tersebut menjadi salah satu simpul pemikiran "The Architecture of Risk". Buku ini tidak menawarkan kehidupan tanpa risiko, tetapi mengajak pembaca memahami risiko agar dapat menentukan pilihan dan memutuskan risiko mana yang layak diperjuangkan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: