Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Jababeka Dorong Model Baru Kawasan Industri Berbasis Human Capital dan Entrepreneurship

        Jababeka Dorong Model Baru Kawasan Industri Berbasis Human Capital dan Entrepreneurship Kredit Foto: Jababeka
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Founder dan Chairman PT Jababeka Tbk Setyono Djuandi (SD) Darmono menilai pembangunan kawasan industri Indonesia perlu bergeser dari sekadar penyediaan lahan dan infrastruktur menuju pengembangan ekosistem yang mengintegrasikan industri, pendidikan, inovasi, dan kewirausahaan.

        Menurut Darmono, kawasan industri yang ingin bertahan dalam jangka panjang tidak cukup hanya menyediakan jalan, listrik, air, dan bangunan pabrik. Ketersediaan sumber daya manusia berkualitas dan kemampuan menciptakan bisnis baru justru menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing kawasan.

        Pengalaman membangun Kota Jababeka menjadi salah satu dasar pandangan tersebut. Darmono mengatakan kawasan industri harus berkembang menjadi kota yang mampu mengintegrasikan tempat bekerja, belajar, tinggal, hingga aktivitas bisnis dalam satu ekosistem.

        “Itulah sebabnya sejak awal kami tidak melihat Kota Jababeka hanya sebagai tempat berdirinya pabrik. Kami ingin membangun sebuah kota tempat orang bisa bekerja, belajar, tinggal, membangun keluarga, berinovasi, dan akhirnya menciptakan perusahaan baru,” kata Darmono.

        Darmono mencontohkan perkembangan kawasan industri Cikarang yang kemudian menciptakan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan lebih spesifik. Perusahaan yang masuk ke kawasan tersebut tidak hanya membutuhkan lahan dan infrastruktur, tetapi juga tenaga kerja dengan pengetahuan, kemampuan teknologi, bahasa, disiplin, dan pengalaman di lingkungan industri.

        Kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan pendirian yayasan pendidikan yang kemudian melahirkan President University pada 2001. Darmono juga merupakan founder President University.

        Menurut dia, keberadaan perguruan tinggi di tengah kawasan industri memungkinkan dunia usaha terlibat lebih dekat dalam proses pendidikan. Mahasiswa dapat memperoleh pengalaman melalui internship sekaligus memahami kebutuhan industri sebelum memasuki dunia kerja.

        “Dengan pengalaman tersebut, hubungan antara universitas dan dunia kerja menjadi lebih dekat. Universitas mengetahui apa yang dibutuhkan industri. Industri bisa mengenal talenta sebelum mereka lulus. Mahasiswa memperoleh pengalaman sebelum memasuki dunia kerja,” ujarnya.

        Darmono melihat hubungan tersebut membentuk siklus pertumbuhan yang saling memperkuat. Industri menciptakan lapangan kerja, pendidikan menghasilkan talenta, talenta mendorong inovasi, inovasi melahirkan bisnis baru, dan bisnis baru kembali menciptakan lapangan kerja.

        Tantangan berikutnya, menurut Darmono, adalah mengubah orientasi pendidikan dari sekadar menghasilkan pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.

        Ia menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak job creators agar penciptaan lapangan kerja tidak hanya bergantung pada pemerintah maupun perusahaan besar.

        “Di President University, kami ingin agar mahasiswa tidak hanya bertanya: ‘Setelah lulus saya bekerja di perusahaan apa?’ Tetapi juga berani bertanya: ‘Perusahaan apa yang dapat saya bangun?’” katanya.

        Darmono bahkan menilai Indonesia perlu berani menargetkan pertumbuhan jumlah entrepreneur hingga 10% dari masyarakat yang memiliki semangat dan kemampuan menciptakan usaha produktif.

        Menurut dia, perusahaan baru, usaha kecil dan menengah, startup, industri kreatif, serta generasi baru pengusaha dapat menjadi sumber pertumbuhan lapangan kerja berikutnya.

        “Karena itu, saya selalu melihat entrepreneurship bukan sekadar mata kuliah. Entrepreneurship adalah mindset. Seorang entrepreneur melihat masalah sebagai peluang. Ia berani mengambil risiko yang terukur. Ia menciptakan produk, pekerjaan, dan akhirnya menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Darmono.

        Darmono juga melihat koridor Bekasi-Cikarang-Karawang memiliki posisi strategis sebagai laboratorium industrialisasi Indonesia. Kawasan tersebut memiliki konsentrasi industri, tenaga kerja, perumahan, perguruan tinggi, logistik, infrastruktur, perdagangan, dan berbagai jasa pendukung.

        Model tersebut, menurut dia, dapat menjadi referensi untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah lain dengan menyesuaikan potensi masing-masing daerah.

        “Tidak semua harus menjadi seperti Jakarta. Tidak semua harus menjadi seperti Cikarang. Setiap wilayah harus berkembang berdasarkan keunggulannya sendiri, yakni manufaktur, agro-industry, mineral processing, tourism, maritime industry, digital economy, atau kombinasi beberapa sektor,” katanya.

        Karena itu, Darmono merumuskan lima elemen yang perlu dibangun secara bersamaan, yakni Industry, Infrastructure, Education, Innovation, dan Entrepreneurship.

        Ia menilai pembangunan infrastruktur fisik tetap penting, tetapi kualitas manusia menjadi faktor yang lebih menentukan dalam ekonomi berbasis pengetahuan.

        “Jalan bisa dibangun dalam beberapa tahun. Pabrik dapat dibangun dalam beberapa bulan. Tetapi membangun manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Karena itu, industrialisasi dan pendidikan harus direncanakan bersama sejak awal,” ujar Darmono.

        Baca Juga: Jababeka Caplok 51% Kawasan Industri Kendal, Siapkan Ekspansi Besar di Jateng

        Baca Juga: Jababeka Gandeng Pertamina, Siapkan Energi Hijau untuk 2.000 Perusahaan

        Baca Juga: Jababeka Gandeng 18 Perusahaan, Lulusan SMK Disiapkan Sesuai Kebutuhan Industri

        Menurut dia, transformasi kawasan industri pada akhirnya bukan hanya mengenai jumlah pabrik yang berhasil dibangun, tetapi juga kemampuan kawasan tersebut melahirkan talenta, inovasi, dan perusahaan baru.

        “Karena pada akhirnya, masa depan industrialisasi Indonesia tak hanya akan ditentukan oleh berapa banyak pabrik yang kita bangun. Masa depan kita akan ditentukan oleh berapa banyak manusia berkualitas yang kita lahirkan, berapa banyak inovasi yang kita ciptakan, dan berapa banyak entrepreneur baru yang berani membangun perusahaan dan membuka lapangan pekerjaan,” pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: