Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp17.866 per USD Hari Ini

        Rupiah Dibuka Menguat ke Level Rp17.866 per USD Hari Ini Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (7/10/2026), bergerak menguat menjadi Rp17.866 per dolar AS. Mata uang Garuda menguat 33 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang ada di level Rp17.899 per dolar AS

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp17.890 sampai Rp17.940 per dolar AS.

        "Sedangkan perdagangan dalam pekan ini rupiah berada di rentang Rp17.750-Rp18.050," kata Ibrahim kepada wartawan.

        Ibrahim menyebut ada beberapa sentimen terhadap pergerakan rupiah. Salah satunya didorong oleh sentimen Bank Dunia yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2%. Proyeksi tersebut direvisi naik sebesar 0,5 poin persentase. 

        "Aktivitas ekonomi Indonesia juga ditopang oleh peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi," kata dia.

        Baca Juga: Rupiah Ditutup Rebound ke Rp17.899 per USD, Ditopang Sentimen Bank Dunia

        Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.917, Impor BBM Jadi Sorotan

        Lonjakan pertumbuhan tersebut, kata Ibrahim, mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momentum Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program makan bergizi gratis disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal.

        Meski demikian, Bank Dunia turut menyoroti aktivitas ekonomi domestik yang tampak melemah setelahnya. Hal ini ditandai dengan penurunan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur menjadi 49,3 pada Agustus serta melemahnya tingkat kepercayaan konsumen menjadi 116,8 pada Juli.

        "Di sisi lain, pelebaran defisit memicu kekhawatiran pasar terhadap tren fiskal dan peringkat utang negara (sovereign ratings)," kata dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: