Kredit Foto: Tangkapan layar Youtube TV Parlemen
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan peringatan politik kepada Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Syahganda Nainggolan. Hal itu menyusul pernyataan aktivis itu mengenai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Eks Presiden Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).
Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia Dian Sandi Utama menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan menjelaskan bahwa pernyataan “ganti mas wapres” merupakan rekaman lama. Ada pula pernyataan mengenai ayah wapres yang dinilai perlu diluruskan.
Baca Juga: Heru Soroti Momen Jokowi Temui Prabowo Jelang Putusan MK: Labrakan Itu Sukses Selamatkan Gibran
“Lebih bagus lagi jika klarifikasi pernyataannya tentang 'Siapa itu Jokowi',” ujar Dian, dikutip Rabu (7/10/2026).
Dian menekankan bahwa tidak ada salahnya bagi aktivis itu meminta maaf atas ucapan yang pernah disampaikannya. Ia bahkan menilai pernyataan lama itu dapat dipahami sebagai bagian dari sikap politik pada masa itu.
“Ucapan waktu lalu adalah bentuk posisi politik, tidaklah menjadi masalah dan bapak pasti memaafkan,” ungkapnya.
Pesan Dian tersebut menjadi menarik karena membawa nama Prabowo dan Jokowi. Dian tidak menyebut adanya konflik antara kedua tokoh tersebut. Sebaliknya, ia justru menekankan bahwa presiden sangat menghargai Jokowi.
Pernyataan Dian sekaligus menjadi pengingat kepada aktivis itu mengenai perubahan posisi politiknya. Syahganda sebelumnya menegaskan kritiknya yang viral dilontarkannya saat masih berada di luar pemerintahan. Kini, situasinya berbeda setelah ia ditunjuk sebagai Kepala Bakom.
Syahganda dilantik sebagai Kepala Bakom pada 2 Oktober 2026. Sebelumnya, ia menyampaikan pernyataan yang meminta adanya penggantian dari Wakil Presiden Gibran. Rekaman tersebut kemudian kembali viral setelah pengangkatannya menjadi pejabat pemerintah.
Syahganda telah memberikan klarifikasi. Ia mengatakan pernyataan mengenai pergantian Gibran disampaikan jauh sebelum dirinya masuk ke pemerintahan.
Ia menjelaskan bahwa pernyataan tersebut muncul ketika dirinya menjadi narasumber dalam siniar Refly Harun pada September 2026. Saat itu, Syahganda belum dilantik sebagai Kepala Bakom.
Menurut Syahganda, perbedaan posisi sebelum dan sesudah bergabung dengan pemerintahan merupakan hal yang harus dipahami.
Baca Juga: Pengamat Sinyalkan Jokowi Ada di Persimpangan Politik, Kaesang Lebih Baik daripada Gibran?
“Kritik terhadap Gibran, kata Syahganda, ia sampaikan saat masih berada di luar pemerintahan. Tapi di dalam sistem pemerintahan, otomatis saya harus sejalan dengan Bapak Presiden,” tukasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar