Kredit Foto: X @Ryanweather
Peta suhu global yang didominasi warna merah menjadi gambaran menguatnya fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai intensitas ekstrem pada akhir 2026. Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) memperingatkan fenomena ini berpotensi menjadi salah satu El Nino terkuat sejak 1950, ketika anomali suhu permukaan laut di Pasifik tropis diproyeksikan mencapai 3,7 derajat Celsius di atas normal.
Mengutip NDTV, Meteorolog Ryan Maue menggambarkan kondisi tersebut melalui peta iklim yang menunjukkan sebagian besar wilayah dunia berada dalam kondisi lebih hangat dari biasanya. Dalam unggahannya di media sosial X, Maue menyebut El Nino akan terus berada pada intensitas tinggi hingga musim dingin, dengan pemanasan global meluas ke berbagai kawasan.
Gambaran peta yang semakin merah itu mencerminkan meluasnya anomali suhu, meski tingkat pemanasan dan dampaknya tidak seragam di setiap wilayah. Maue juga menyebut Amerika Serikat sebagai salah satu pengecualian dalam proyeksi pola pemanasan yang ia sampaikan.
WMO memperkirakan El Nino akan terus menguat sebelum mencapai puncak sekitar Desember 2026. Dampaknya diperkirakan berlanjut hingga awal 2027, dengan kemungkinan fenomena tersebut bertahan sampai Februari.
Anomali Suhu Pasifik Diprediksi Tembus 3,7 Derajat
Pusat perhatian para ilmuwan berada di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur, yang menjadi indikator utama perkembangan El Nino. WMO memperkirakan anomali suhu permukaan laut di kawasan tersebut mencapai 3,7 derajat Celsius di atas normal selama Oktober–Desember 2026.
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather juga memperingatkan bahwa pemanasan di wilayah Niño 3.4 telah memasuki wilayah yang belum pernah tercatat sebelumnya. Dalam unggahannya di X, ia menyebut anomali suhu di kawasan tersebut telah mencapai 3,4 derajat Celsius di atas normal.
Sementara itu, pakar iklim Leon Simons menggunakan istilah super-duper El Nino untuk menggambarkan kuatnya fenomena yang berkembang tahun ini. Istilah tersebut merupakan ungkapan informal, bukan klasifikasi resmi WMO.
El Nino sendiri merupakan fase hangat dari siklus iklim alami El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Fenomena yang umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun ini memengaruhi suhu global dan mengubah pola curah hujan di berbagai kawasan.
Peta Memerah, Risiko Cuaca Ekstrem Meluas
Meluasnya warna merah pada peta anomali suhu menjadi peringatan mengenai potensi pemanasan di berbagai wilayah dunia. WMO menyatakan El Nino akan memperkuat dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia, sehingga kondisi cuaca ekstrem perlu diantisipasi.
Dampaknya tidak hanya berupa kenaikan suhu. Perubahan pola hujan dapat memicu kekeringan di sejumlah kawasan, sementara wilayah lain berisiko mengalami hujan lebat dan banjir.
Perbedaan dampak antardaerah membuat fenomena ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan sektor usaha. Perubahan cuaca dapat mengganggu aktivitas ekonomi, terutama sektor yang bergantung pada kondisi iklim, meskipun besarnya dampak akan berbeda sesuai karakteristik masing-masing wilayah.
WMO memperkirakan suhu permukaan laut di sebagian besar wilayah dunia berpeluang besar berada di atas rata-rata pada bulan-bulan terakhir 2026. Kondisi tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa pemanasan yang terlihat pada peta iklim akan berlangsung bersamaan dengan perubahan pola cuaca regional.
Peneliti Peringatkan Potensi Korban Jiwa
Ancaman El Nino ekstrem juga mencakup kesehatan manusia. Peneliti dari University of Chicago's Climate Impact Lab memperkirakan fenomena super-El Nino tahun ini berpotensi menyebabkan hingga 451.000 kematian tambahan secara global selama Juni 2026 hingga Februari 2027.
Angka tersebut merupakan estimasi penelitian, bukan jumlah korban yang telah terkonfirmasi. Potensi dampaknya menunjukkan bahwa perubahan suhu dan pola cuaca dapat menjadi persoalan kesehatan masyarakat, terutama di wilayah yang rentan terhadap panas ekstrem dan gangguan iklim.
Dengan proyeksi El Nino yang menguat hingga akhir tahun dan berpotensi bertahan sampai Februari 2027, peta dunia yang semakin memerah menjadi pengingat bahwa pemanasan global bukan sekadar persoalan suhu. Perubahan pola hujan, risiko bencana, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat juga menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: