Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Surveyor Indonesia Luncurkan SIClirisk, Platform Digital Kelola Risiko Iklim bagi Dunia Usaha

Surveyor Indonesia Luncurkan SIClirisk, Platform Digital Kelola Risiko Iklim bagi Dunia Usaha Kredit Foto: Antara/Dedhez Anggara
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap isu perubahan iklim dinilai semakin tinggi. Laporan survei Burson Data, Insights & Intelligence bekerja sama dengan Global Methane Hub pada 2025 menyebutkan sebanyak 98 persen masyarakat Indonesia percaya terhadap perubahan iklim, sementara 81 persen di antaranya meyakini aktivitas manusia menjadi penyebab utama.

Sejalan dengan meningkatnya tantangan perubahan iklim dan risiko bencana hidrometeorologi, pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menempatkan ekonomi hijau sebagai bagian inti strategi pembangunan nasional.

Pemerintah menilai tanpa langkah mitigasi dan adaptasi yang memadai, perubahan iklim berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.

Merespons kondisi tersebut, PT Surveyor Indonesia (Persero) memperkuat layanan berbasis keberlanjutan melalui peluncuran platform digital SIClirisk untuk membantu dunia usaha mengelola risiko iklim secara lebih terukur.

Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi, mengatakan perusahaan mendukung upaya pemerintah dalam mitigasi perubahan iklim sekaligus mendorong implementasi ekonomi hijau di sektor industri.

“Kami tentunya mendukung upaya pemerintah dalam hal mitigasi atas perubahan iklim yang terjadi. Hal ini merupakan wujud komitmen kami dalam mendukung ekonomi hijau yang telah dicanangkan pemerintah. Kami meyakini, bahwa terkait perubahan iklim ini tentunya tidak cukup hanya menjadi perhatian pemerintah semata, tapi juga perlu langkah strategis yang dilakukan para dunia usaha dan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Fajar, perubahan iklim kini tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga telah berkembang menjadi faktor risiko bisnis yang perlu dimitigasi secara terukur.

Ia menilai dunia usaha membutuhkan pendekatan berbasis data untuk memahami dampak perubahan iklim terhadap operasional perusahaan, aset, maupun keberlanjutan bisnis jangka panjang.

“Perubahan iklim tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan, tetapi telah menjadi faktor risiko yang perlu dimitigasi secara terukur oleh dunia usaha. Perusahaan membutuhkan pendekatan berbasis data untuk memahami potensi risiko yang dapat mempengaruhi operasional, aset, maupun keberlanjutan usaha ke depan,” katanya.

Fajar menambahkan kebutuhan terhadap sustainability assurance dan climate risk assessment juga terus meningkat seiring berkembangnya implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di berbagai sektor industri.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Surveyor Indonesia meluncurkan SIClirisk sebagai bagian dari penguatan layanan Green Services dan Sustainability Assurance dalam transformasi industri Testing, Inspection, Certification, and Consultation (TICC).

Melalui platform tersebut, pelaku usaha dapat melakukan identifikasi, analisis, dan mitigasi risiko iklim secara lebih komprehensif dengan dukungan teknologi geospasial, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta analitik data.

“Melalui SIClirisk, para pelaku usaha dapat terbantu dalam melakukan identifikasi, analisis, serta mitigasi risiko iklim secara lebih komprehensif. Dengan memanfaatan teknologi geospasial, AI, dan analitik data, hal ini menjadi penting bagi kalangan usaha untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” ungkap Fajar.

Baca Juga: Krisis Iklim Makin Genting, Koalisi Aktivis Minta World Bank Hentikan Pendanaan Peternakan Intensif

SIClirisk dilengkapi dashboard interaktif yang mengintegrasikan berbagai data seperti tutupan lahan, deforestasi, emisi, konservasi, hingga analitik risiko iklim berbasis citra satelit dan data geospasial.

Platform tersebut juga menyediakan sejumlah fitur, antara lain Climate Risk Rating, Carbon Stock Mapping, Flood Risk Assessment, Hydrology Modelling System, Early Warning System, Sustainability Planning, hingga Green Financing Support.

Menurut perusahaan, kehadiran platform ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha memperkuat manajemen risiko iklim, meningkatkan transparansi keberlanjutan, sekaligus mendukung transformasi menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: