Mengapa Bank Masih Jadi Sasaran Empuk Serangan Siber? Ini Kata ITSEC
Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
PT ITSEC Asia Tbk (CYBR) menyoroti perubahan modus kejahatan keuangan seiring meningkatnya transaksi digital. Jika sebelumnya pelaku membobol brankas dan membawa kabur uang tunai, kini serangan beralih ke sistem perbankan dan rekening digital nasabah.
President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan, perubahan tersebut sejalan dengan meningkatnya penggunaan ponsel pintar dan aplikasi perbankan untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat. Perkembangan ini turut membuka peluang bagi pelaku kejahatan untuk mengeksploitasi layanan keuangan digital.
“Dahulu, perampok datang membawa senjata, membobol brankas bank, dan mengambil uang tunai. Sekarang, pola itu berevolusi menjadi serangan digital,” kata Patrick dalam konferensi pers AICX 2026 di Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Menurut Patrick, menjaga keamanan sistem perbankan menjadi tantangan besar karena bank harus melindungi layanan yang digunakan jutaan nasabah, jaringan kantor cabang, serta sistem perbankan inti yang saling terhubung.
Kompleksitas tersebut semakin besar ketika institusi memiliki ratusan hingga ribuan karyawan dan beragam sistem yang harus diamankan.
“Bank mempekerjakan ratusan bahkan ribuan karyawan. Menciptakan lingkungan yang sepenuhnya aman bagi institusi perbankan merupakan tantangan yang sangat masif, sama halnya dengan industri telekomunikasi dan sektor lainnya,” ujar Patrick.
Ia menjelaskan, serangan siber terhadap sektor keuangan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pelaku dapat menargetkan sistem milik bank untuk memperoleh keuntungan finansial dalam jumlah besar. Sementara itu, nasabah individu berisiko menjadi korban penipuan melalui telepon maupun rekayasa sosial (social engineering).
Dalam modus rekayasa sosial, pelaku memanipulasi korban agar mengikuti instruksi tertentu atau memberikan akses ke akun perbankan digital. Akses tersebut kemudian dapat disalahgunakan untuk mengambil uang dari rekening korban.
Baca Juga: Perang Baru Industri Perbankan: Bukan Sekadar Cari Nasabah, tetapi Bikin Mereka Bertahan
Baca Juga: Pakai ChatGPT hingga Grok di Kantor? ITSEC Ingatkan Risiko Data Bocor
Ancaman siber juga tidak terbatas pada pencurian uang dari institusi keuangan maupun nasabah. Menurut Patrick, infrastruktur kritis dapat menjadi sasaran serangan dengan motif berbeda, termasuk operasi yang didukung negara.
“Selain motif finansial pada bank dan bursa saham, ada pula serangan yang disponsori negara yang menyasar infrastruktur kritis,” kata Patrick.
Risiko tersebut membuat keamanan siber menjadi perhatian tidak hanya bagi institusi keuangan, tetapi juga bagi pengelola infrastruktur strategis yang menopang aktivitas ekonomi. Perlindungan perlu mencakup sistem institusi serta akses digital yang digunakan masyarakat untuk melakukan transaksi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: