Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Alex Rins Ngamuk ke Marshal Mandalika, Mantan Bos MGPA Bongkar Fakta di Balik Video Viral

        Alex Rins Ngamuk ke Marshal Mandalika, Mantan Bos MGPA Bongkar Fakta di Balik Video Viral Kredit Foto: Antara/Andika Wahyu
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Video Alex Rins yang bersitegang dengan marshal setelah mengalami kecelakaan di Pertamina Mandalika International Circuit memicu perdebatan di media sosial. Di tengah kritik terhadap petugas yang dianggap tidak sigap membantu pebalap Yamaha tersebut, mantan Direktur MGPA Priandhi Satria memberikan penjelasan mengenai prosedur yang berlaku di lintasan.

        Dalam rekaman yang beredar, Rins terlihat terlibat perselisihan dengan seorang marshal. Pebalap asal Spanyol itu bahkan tampak mengacungkan jari tengah kepada petugas setelah terjadi ketegangan saat dirinya hendak kembali ke paddock.

        Cuplikan tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa marshal tidak bersedia mengantar Rins kembali ke garasi. Namun, Priandhi mengingatkan bahwa kejadian tersebut perlu dilihat dengan memahami pembagian tugas petugas dan prosedur penanganan pebalap yang mengalami kecelakaan.

        Menurut informasi yang diterimanya dari pihak yang tidak disebutkan namanya, marshal yang terlibat dalam kejadian tersebut telah menjalankan tugas sesuai fungsi masing-masing. Ia menjelaskan, kendaraan yang digunakan petugas dalam video itu merupakan motor flying marshal, bukan kendaraan moto taxi.

        “Motor yang dipakai itu merupakan motor flying marshal, dan bukan kendaraan moto taxi. Di bagian belakangnya terlihat ada APAR atau alat pemadam api ringan,” ujar Priandhi.

        Perbedaan jenis kendaraan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami kejadian di Mandalika. Pasalnya, flying marshal memiliki tugas operasional di lintasan, sedangkan moto taxi digunakan untuk membantu mengantarkan pebalap sesuai prosedur dan kondisi yang ditentukan penyelenggara.

        Priandhi menjelaskan, petugas flying marshal tidak bisa meninggalkan area kerja yang menjadi tanggung jawabnya hanya untuk mengantar seorang pebalap hingga ke garasi. Karena itu, terdapat titik transit yang menjadi lokasi peralihan sebelum pebalap melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan penjemputan yang telah disiapkan.

        “Kendaraan flying marshal, tidak boleh meninggalkan area kerja yang telah ditentukan, makanya ada kendaraan transit. Dengan demikian, tidak semua kendaraan yang berada di lintasan dapat digunakan untuk mengantarkan pebalap hingga ke garasi atau paddock,” ujar Priandhi.

        Ia menambahkan, keinginan pebalap untuk segera kembali ke garasi setelah terjatuh dapat dipahami. Namun, kebutuhan tersebut tidak selalu bisa dipenuhi oleh setiap petugas karena mereka harus tetap menjalankan tanggung jawab sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan.

        “Rider pasti maunya diantar secepat mungkin untuk sampai kembali ke garasinya. Itu memungkinkan jika memakai moto taxi, tetapi tidak memungkinkan jika kebetulan dia diantar menggunakan kendaraan flying marshal, karena itu akan berarti petugas marshal tersebut meninggalkan area pos kerja mereka terlalu lama, dan tidak sesuai prosedur yang telah ditentukan dan disetujui sebelum balap,” ujarnya.

        Baca Juga: Pasca Hina Marshal di MotoGP Mandalika, Alex Rins Minta Maaf dan Sayangkan Ancaman Netizen Padanya

        Priandhi juga menyatakan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, Dorna Sports tidak mempermasalahkan pelaksanaan tugas petugas dalam insiden tersebut. Meski begitu, keterangan tersebut tetap merupakan penjelasan yang disampaikan Priandhi, bukan pernyataan langsung dari Dorna yang dikutip dalam bahan ini.

        “Dari Dorna tidak ada masalah sebenarnya, karena semua melakukan tugasnya,” kata Priandhi.

        Di sisi lain, gestur Rins yang mengacungkan jari tengah kepada marshal turut menjadi sorotan. Menurut Priandhi, Steward Federation Internationale de Motocyclisme (FIM) memanggil Rins untuk memberikan teguran terkait perilakunya, termasuk gestur yang dinilai tidak pantas dan dugaan adanya sedikit kontak fisik dengan petugas.

        Penjelasan Priandhi memberikan konteks tambahan terhadap video yang telanjur memicu kritik. Namun, untuk menilai kejadian secara utuh, fungsi kendaraan, prosedur evakuasi, dan keterangan dari pihak-pihak terkait tetap perlu diperhatikan agar potongan video tidak menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan apa yang terjadi di lintasan Mandalika.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Wahyu Pratama

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: