Kredit Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 1,93% pada perdagangan sesi I, Senin (12/10/2026). Tekanan terutama datang dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), khususnya sektor perbankan dan emiten konglomerasi, yang menjadi penopang utama pergerakan indeks.
IHSG merosot 61,44 poin ke level 5.975,78 setelah sempat menyentuh titik terendah harian di 5.971,41. Pelemahan ini turut diwarnai aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik.
Berdasarkan data perdagangan Stockbit, investor asing mencatatkan net foreign sell sebesar Rp166,22 miliar di seluruh pasar. Nilai penjualan asing mencapai Rp1,75 triliun, lebih besar dibandingkan pembelian yang sebesar Rp1,58 triliun.
Sejumlah saham menjadi sasaran aksi jual asing. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan jual bersih asing terbesar senilai Rp44,40 miliar. Berikutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net sell Rp38,65 miliar, sedangkan saham Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), mengalami jual bersih Rp19,34 miliar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai pelemahan saham-saham unggulan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang mendorong investor melepas saham.
“Koreksi IHSG mencerminkan masih kuatnya tekanan jual di pasar saham domestik, yang dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan faktor domestik, terutama meningkatnya kehati-hatian investor terhadap risiko global, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketidakpastian politik dan ekonomi dalam negeri,” ujar Nafan dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).
Menurut Nafan, saham perbankan dan emiten konglomerasi perlu menjadi perhatian karena memiliki bobot besar dalam pergerakan IHSG. Ketika saham-saham tersebut terkoreksi, tekanan terhadap indeks pun semakin terasa.
“Dari sisi sektoral, tekanan terhadap indeks perlu dicermati pada saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan saham konglomerasi, karena memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan IHSG,” jelasnya.
Nafan memperkirakan IHSG berpotensi bertahan di zona merah hingga penutupan perdagangan jika tekanan jual berlanjut dan belum diimbangi aksi beli pada saham-saham unggulan. Meski begitu, peluang pemulihan teknikal masih terbuka jika investor mulai memburu saham yang harganya telah terkoreksi dalam.
Baca Juga: IHSG Ambruk 2%, Isu Pemakzulan Gibran Ikut Bayangi Pasar
Baca Juga: IHSG Mendadak Babak Belur, Ambruk 2,2 Persen ke Bawah 6.000 pada Perdagangan Siang
“Apabila tekanan jual berlanjut dan belum diimbangi aksi beli pada saham-saham unggulan, IHSG berpotensi tetap bergerak di zona merah hingga penutupan perdagangan. Namun, peluang technical rebound tetap terbuka apabila muncul aksi bargain hunting, sehingga investor sebaiknya mencermati perkembangan nilai transaksi, pergerakan saham berkapitalisasi besar, serta dinamika investor asing,” pungkas Nafan.
Di tengah derasnya tekanan jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, investor asing masih membukukan pembelian bersih pada beberapa emiten. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memimpin daftar net foreign buy dengan nilai Rp133,02 miliar.
Posisi berikutnya ditempati PT Astra International Tbk (ASII) dengan pembelian bersih Rp48,53 miliar, disusul PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) sebesar Rp12,35 miliar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: