Pupuk Kaltim Perluas Energi Terbarukan, PLTS Atap Dukung Operasional dan Kendaraan Listrik
Kredit Foto: Pupuk Kaltim
PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) meraih ASEAN Energy Awards 2026 kategori On Grid melalui implementasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap berkapasitas 3,8 megawatt peak (MWp). Sepanjang 2022–2025, pemanfaatan energi surya tersebut berhasil menekan emisi gas rumah kaca sebesar 10.702,38 ton CO₂ ekuivalen.
Penghargaan tingkat Asia Tenggara tersebut diterima Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim Maslani di Manila, Filipina, Rabu (7/10/2026), dalam rangkaian ASEAN Energy Business Forum 2026.
Pupuk Kaltim mengembangkan PLTS atap sebagai bagian dari strategi transisi energi dan dekarbonisasi industri. Selain mengurangi emisi, pemanfaatan energi surya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing perusahaan.
“Melalui pemanfaatan PLTS Atap, kami berupaya membuktikan bahwa pengembangan energi bersih dapat berjalan beriringan dengan keandalan operasional industri,” ujar Maslani.
Hingga saat ini, kapasitas PLTS atap Pupuk Kaltim mencapai 3,8 MWp, terdiri atas fase pertama sebesar 1,2 MWp dan fase kedua sebesar 2,6 MWp. Sistem tersebut memiliki availability factor sebesar 98–98,6% dengan produksi energi mencapai 4.723.458 kilowatt-hour (kWh) per tahun.
Menurut Maslani, implementasi tersebut menunjukkan bahwa energi surya dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem energi pendukung industri dengan tingkat ketersediaan yang tinggi.
Pengembangan PLTS atap menjadi bagian dari strategi keberlanjutan Pupuk Kaltim untuk mendukung target Second Nationally Determined Contribution (SNDC) sektor industri menuju Net Zero Emission (NZE) 2050.
Strategi tersebut mencakup tiga pilar utama, yakni efisiensi energi, pengurangan dan penangkapan emisi, serta pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Implementasinya dilakukan secara bertahap di area nonpabrik maupun pabrik yang terhubung dengan jaringan listrik lokal berbasis Gas Turbine Generator (GTG).
Dari sisi ekonomi, inisiatif pemanfaatan energi surya menghasilkan penghematan energi sekitar 20% atau setara 5.815.575 kWh. Penghematan tersebut disertai estimasi efisiensi biaya operasional tahunan sekitar US$29.800.
Efisiensi didukung pemanfaatan energi surya untuk kebutuhan operasional perusahaan dan stasiun pengisian daya kendaraan listrik. Pupuk Kaltim juga mengembangkan kolaborasi dengan anak perusahaan Pupuk Indonesia Grup yang memiliki Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (IUPTL) melalui skema Power Purchase Agreement (PPA).
“Bagi kami, pengembangan PLTS Atap tidak berhenti pada pemasangan panel surya. Kami membangun ekosistem energi yang saling terhubung, mulai dari pembangkit, pemanfaatan energi untuk operasional, hingga dukungan terhadap kendaraan listrik,” kata Maslani.
Bus Listrik hingga Pemberdayaan Masyarakat
Selain memasok kebutuhan energi fasilitas perusahaan, Pupuk Kaltim mengintegrasikan pemanfaatan energi surya dengan elektrifikasi transportasi operasional.
Salah satu implementasinya adalah pengalihan penggunaan bus konvensional menjadi bus listrik yang memanfaatkan energi dari PLTS. Inisiatif tersebut tercatat menghemat bahan bakar minyak (BBM) sebesar 3.945,46 liter dan menekan emisi hingga 0,45 ton CO₂.
Program energi terbarukan perusahaan juga mencakup aspek sosial. Pupuk Kaltim melibatkan tenaga kerja lokal dalam proses konstruksi, menyelenggarakan berbagi pengetahuan mengenai teknologi surya, serta memberikan pelatihan operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance/O&M) bagi mahasiswa.
Perusahaan turut menerapkan PLTS di kawasan pesisir Bontang untuk mendukung kebutuhan energi permukiman nelayan.
“Dengan demikian, energi tidak hanya memberikan manfaat bagi operasional industri, tetapi juga membuka peluang peningkatan kompetensi, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan ekonomi lokal,” ujar Maslani.
Pupuk Kaltim menyatakan akan melanjutkan pengembangan EBT yang terintegrasi dengan kebutuhan industri. Perusahaan akan mempertimbangkan keandalan operasional, efisiensi ekonomi, pengurangan emisi, serta manfaat sosial dalam pelaksanaan strategi keberlanjutan berikutnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: