- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Proyek Tambang Emas DEWA di Aceh Mandek, Izin dan Bencana Alam Jadi Penghambat
Kredit Foto: Darma Henwa
Proyek tambang emas dan tembaga PT Gayo Mineral Resources (GMR), anak usaha PT Darma Henwa Tbk (DEWA) di Aceh, masih terhenti hingga kuartal III-2026. Pengeboran belum bisa dilanjutkan akibat kendala perizinan dan bencana alam yang mengganggu akses serta logistik.
Dalam laporan eksplorasi periode 1 Juli–30 September 2026, GMR mencatat tidak ada pengeboran baru. Total kedalaman pengeboran kumulatif tetap 31.485,75 meter, sama seperti akhir kuartal II-2026.
Pengeboran telah berhenti sejak 8 Maret 2026 karena proses perizinan Izin Usaha Pertambangan (IUP) belum rampung. Manajemen mengategorikan penundaan akibat kendala tersebut sebagai keadaan kahar (force majeure).
Padahal, pengeboran Fase #2B di Prospek Upper Tengkereng (UT) semula dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026 hingga Juni 2027. Kontraktor PT Arfa Explorindo Nusantara juga tidak melakukan pengeboran sepanjang kuartal III-2026.
Meski aktivitas pengeboran terhenti, GMR tetap mengeluarkan biaya eksplorasi sebesar Rp14,51 miliar selama kuartal III-2026. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan di dua area utama, yakni Upper Tengkereng dan Southeast Tengkereng.
Selain perizinan, banjir bandang dan tanah longsor di Aceh turut menghambat proyek. Bencana tersebut mengganggu akses menuju lokasi tambang dan distribusi logistik.
Curah hujan tinggi juga merusak hingga menghilangkan dua bendung pemantau debit sungai. GMR berencana memperbaiki fasilitas tersebut, menyempurnakan desain, dan memindahkan titik pemantauan.
Bendung itu merupakan bagian dari Water Supply Scoping Study, kajian untuk menguji kelayakan pemanfaatan air permukaan guna mendukung operasional tambang pada masa mendatang.
Pembebasan lahan juga masih menjadi kendala. Di Southeast Tengkereng, GMR telah memulai pemetaan kepemilikan tanah menggunakan citra drone. Namun, lahan untuk dua titik pengeboran, yakni titik 9 dan 10, belum berhasil diamankan.
Perusahaan menegaskan kepastian akses lahan menjadi syarat sebelum pengeboran dapat dilanjutkan.
Di sisi lain, sejumlah fasilitas pendukung masih perlu dibenahi. Penggantian core box historis baru mencapai 561 dari total 918 boks. Kapasitas penyimpanan sampel reject hampir penuh, sedangkan ruang pemotongan core masih membutuhkan peredam suara.
Di tengah terhentinya pengeboran, GMR berfokus menyelesaikan kajian teknis dan menyiapkan lapangan agar pekerjaan dapat segera dilanjutkan setelah izin terbit.
Salah satu agenda utamanya adalah audit berdasarkan standar JORC. GMR menunjuk SRK Consulting (Australasia) Pty Ltd sebagai auditor independen untuk meninjau data pengeboran Tahap 2 sepanjang 30.000 meter guna menyusun estimasi sumber daya terbaru. Kunjungan lapangan pertama SRK telah dilakukan pada September 2026.
GMR juga mengevaluasi parameter sumber daya di Prospek UT, termasuk menghitung ulang cut-off grade berdasarkan ekuivalen tembaga (copper equivalent/CuEq) dan ekuivalen emas (gold equivalent/AuEq).
Estimasi terbaru akan mencakup data hasil analisis sampel (assay) hingga lubang bor UTD087, lebih luas dibandingkan estimasi semester I-2026 yang menggunakan data hingga UTD081.
Saat ini, GMR mengompilasi data dari 102 lubang bor dengan total panjang pengeboran yang telah disurvei mencapai 42.637,93 meter. Data tersebut mencakup catatan historis, 24.843 hasil analisis batuan, dan 1.533 sampel berat jenis.
Perusahaan juga menargetkan percepatan perpanjangan IUP Eksplorasi sekaligus peningkatan status menjadi IUP Operasi Produksi. Namun, dalam laporan periode ini, pembaruan perizinan yang dicatat baru berupa Surat Keputusan Peta Indikatif Penghentian Pemberian Izin Baru (PIPPIB) kedua tertanggal 13 Mei 2026.
Baca Juga: BUMI Buka Suara soal Rumor Akuisisi Kideco, Ini Sikap Resminya
Baca Juga: Putra Mahkota Bakrie Serok Ratusan Juta Saham Bumi Resources (BRMS)
Perusahaan menyatakan siap melanjutkan pengeboran Fase #2B apabila izin resmi telah terbit. Program prioritas di Prospek UT mencakup kegiatan Ore Body Knowledge sepanjang 13.172 meter, yang terdiri atas:
- Pengeboran geoteknik dan hidrologi: 5.875 meter.
- Pengeboran metalurgi: 3.827 meter.
- Pengeboran sumber daya: 3.470 meter.
Selain program tersebut, GMR merencanakan pengeboran geoteknik dan hidrologi untuk infrastruktur tambang bawah tanah sepanjang 3.620 meter. Perusahaan juga menyiapkan eksplorasi Southeast Tengkereng sepanjang 1.000 meter, pengeboran horizontal portal tambang bawah tanah sepanjang 250 meter, serta pengeboran untuk mendukung infrastruktur permukaan sepanjang 680 meter.
Proyek tambang emas dan tembaga ini dirancang menggunakan metode penambangan bawah tanah dengan konsep Underground Block Cave.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: