Gertakan 'Operasi Politik' Mandul, Tuduhan Jokowi Tak Akan Bisa Surutkan Gaungan Pemakzulan Gibran
Kredit Foto: Istimewa
Mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) akhirnya turun gunung untuk menanggapi gelombang krisis legitimasi yang tengah menghantam putra sulungnya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun dukungannya dipastikan tidak akan mampu meredam membesarnya bola salju pemakzulan di Senayan.
Pengamat Politik/Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti merespons dingin manuver pembelaan dari Jokowi. Ia menyoroti bagaimana mantan presiden itu melemparkan narasi pertahanan dengan menuding bahwa rentetan polemik seputar ketiadaan dokumen penyetaraan ijazah setingkat sekolah menengah atas milik sang wapres tak lebih dari sekadar operasi politik.
Baca Juga: Babak Baru Polemik Ijazah, Kubu Gibran Tantang Denny Indrayana Tunjukkan SP3 Korupsi di 2015
Ray menegaskan bahwa tuduhan mengenai adanya sabotase atau campur tangan pihak luar tidak memiliki relevansi dengan desakan penegakan hukum dan konstitusi yang tengah disuarakan oleh masyarakat sipil.
Menurut Ray, narasi apa pun yang dibangun oleh kubu keluarga mantan presiden tidak akan bisa menyurutkan langkah perlawanan publik. Desakan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk segera menggulirkan hak angket untuk membongkar tuntas skandal cacat administrasi sang wapres akan terus dipacu tanpa peduli pada tudingan-tudingan bernada politis tersebut.
"Oleh karena itu bagi saya, saya anggap angin lalu aja lah yang begitu-begitu an. Enggak akan menyurutkan kita untuk mendesak supaya angket itu dilakukan," kata Ray Rangkuti, dikutip pada Sabtu (17/10/2026).
Bagi kelompok pro-demokrasi, pembelaan tersebut dianggap sebagai bentuk pengalihan isu (playing victim). Ray Rangkuti menilai bahwa tuduhan tersebut merupakan lagu lama yang sudah kehilangan daya magisnya.
Ray menyayangkan bagaimana alih-alih membuktikan keabsahan ijazah anaknya secara konkret lewat dokumen fisik yang diakui negara, mantan presiden itu dinilai justru memilih berlindung di balik frasa "operasi politik".
"Ya, ini kan bukan kali pertama dia mengucapkan itu dan saya kira sudah berulang-ulang. Dan tidak pernah terang," ungkap Ray.
Sebelumnya, Jokowi memang secara lugas mengklaim bahwa polemik ijazah yang menyeret keluarganya ini sengaja diciptakan untuk merusak nama baik. Ia bahkan menggunakan terminologi konspiratif dengan menyebut adanya pihak yang memanfaatkan momentum ini.
“Kan sudah saya sampaikan sejak awal ini ada operasi politik. Kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi jadi menjadi ramai sekali,” tuding Jokowi.
Lebih lanjut, tokoh sentral dinasti politik tersebut meyakini bahwa target utama dari kegaduhan ini adalah pelengseran karakter.
Baca Juga: 52 Perusahaan Terafiliasi Malaysia dan Singapura Diduga Terlibat Karhutla, Prabowo Berani Tindak?
“Ya bisa saja memang sekali lagi operasi politik untuk men-downgrade reputasi politik seseorang,” ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: