- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Stok Pertalite Makin Menipis Tinggal 16 Hari, Pemerintah Didesak Ambil Langkah Antisipatif
Kredit Foto: Istimewa
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI) Sofyano Zakaria mengingatkan pemerintah untuk segera mengantisipasi penurunan stok bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite atau RON 90 dari kondisi normal 20–23 hari menjadi 16–18 hari operasi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kelangkaan BBM di sejumlah wilayah apabila tidak diimbangi penguatan pasokan dan pengawasan distribusi.
Sofyano menilai penurunan stok Pertalite tidak dapat hanya dipandang sebagai dampak peralihan konsumsi masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi. Menurutnya, kondisi tersebut juga menjadi ujian bagi pemerintah dalam menjaga ketahanan pasokan energi nasional.
"Penurunan stok Pertalite dari kondisi normal 20–23 hari menjadi 16–18 hari harus menjadi 'alarm' bagi pemerintah. Ini bukan sekadar persoalan pergeseran konsumsi, tetapi juga ujian kemampuan negara menjamin ketersediaan BBM yang sangat dibutuhkan masyarakat," kata Sofyano kepada Warta Ekonomi, Minggu (18/10/2026).
Ia menegaskan pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif melalui penguatan cadangan BBM nasional, kepastian impor, serta kelancaran distribusi. Pemantauan konsumsi secara real time juga diperlukan untuk mengantisipasi perubahan pola permintaan masyarakat.
"Pemerintah tidak boleh hanya bereaksi ketika antrean dan kelangkaan terjadi. Harus ada langkah antisipatif melalui penguatan stok nasional, kepastian impor dan distribusi, serta pemantauan konsumsi secara real time. Pertamina juga harus memastikan pasokan di seluruh wilayah tetap terjaga," ujarnya.
Lebih lanjut, Sofyano menyoroti disparitas harga antara Pertalite dan BBM nonsubsidi yang dinilai dapat mendorong peningkatan konsumsi Pertalite. Peralihan tersebut berisiko memperbesar tekanan terhadap stok sekaligus meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi.
"Risiko terbesar dari disparitas harga yang terus melebar adalah konsumsi Pertalite semakin membengkak, sementara stok tertekan. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini dapat memicu kelangkaan lokal, antrean panjang, penyelewengan, hingga tekanan fiskal akibat membesarnya beban subsidi dan kompensasi," jelasnya.
Karena itu, ia meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan harga dan subsidi BBM secara terukur dengan tetap mempertimbangkan kemampuan ekonomi masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.
Sofyano juga mendorong penetapan kriteria penerima BBM subsidi yang lebih tegas guna memastikan penyalurannya tepat sasaran. Pengawasan distribusi dan penegakan hukum terhadap praktik penyelewengan dinilai perlu diperkuat.
Menurutnya, pemerintah harus menetapkan ketentuan yang jelas mengenai kelompok masyarakat yang berhak menggunakan BBM subsidi, disertai sanksi tegas terhadap pelanggaran maupun pihak yang terlibat dalam penyelewengan.
"Pemerintah harus berani mengevaluasi kebijakan harga dan subsidi secara terukur, tanpa membebani masyarakat kecil. Ketahanan energi tidak boleh bergantung pada asumsi bahwa pasokan akan selalu aman," tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan stok Pertalite nasional berada pada kisaran 16–18 hari operasi, lebih rendah dibandingkan kondisi normal di atas 20 hari.
Bahlil menjelaskan penurunan tersebut dipicu peralihan konsumsi masyarakat dari BBM dengan nilai oktan lebih tinggi, seperti RON 92 dan RON 95, ke Pertalite akibat perbedaan harga.
"Yang kurang dari 20 hari itu hanya RON 90. Tapi kalau Solar, RON 92, RON 95, RON 98 itu no issue, enggak ada masalah. Yang terjadi pergeseran dari 16 ke 18 hari itu adalah RON 90. Kenapa itu terjadi? Karena terjadinya shifting yang tadinya orang pakai 92 dan 95, itu shifting ke 90 karena harganya kan cukup berbeda, cukup ekonomis ini," ungkap Bahlil di Kementerian ESDM, Jumat (16/10/2026).
Baca Juga: Bali Terapkan Ganjil Genap Pengisian Pertalite Mulai 17 Oktober, Ini Aturannya
Baca Juga: Stok Pertalite Kini Tak Sampai 20 Hari, Ini Kata Bahlil
Baca Juga: Bahlil Ungkap Stok Pertalite Menurun, Ditarget Normal Sepekan
Pemerintah menargetkan stok Pertalite kembali melampaui 20 hari operasi dalam waktu sekitar satu minggu melalui peningkatan kinerja kilang.
"Mungkin untuk mencapai di angka 20 itu ya kita butuh waktu seminggu. Seminggu selesai. Tapi di 16 sampai 18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal, enggak," kata Bahlil.
Bahlil memastikan stok BBM jenis lain, termasuk Solar, RON 92, RON 95, dan RON 98, masih berada dalam kondisi aman.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri