Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kekayaan Prajogo Pangestu Amblas Rp504 Triliun, Tertekan Efek MSCI

        Kekayaan Prajogo Pangestu Amblas Rp504 Triliun, Tertekan Efek MSCI Kredit Foto: Barito Pacific
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Gejolak pasar modal Indonesia berdampak besar terhadap kekayaan konglomerat Prajogo Pangestu. Sejak awal 2026, kekayaannya diperkirakan menyusut sekitar Rp504 triliun, seiring anjloknya harga saham sejumlah perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Barito.

        Mengacu pada data Forbes, kekayaan Prajogo pada akhir 2025 mencapai US$39,8 miliar. Saat itu, ia menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, berada di bawah Robert Budi Hartono dan Michael Hartono yang secara gabungan memiliki kekayaan US$43,8 miliar.

        Namun, situasi berubah drastis sepanjang 2026. Pelemahan pasar saham menekan nilai kekayaan Prajogo, terutama setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia pada Jumat (16/10/2026).

        Kini, kekayaan Prajogo kini berada di kisaran US$11,4 miliar atau setara Rp205,5 triliun, dengan asumsi kurs Rp18.027 per dolar AS. Dibandingkan akhir 2025, kekayaannya merosot sekitar US$28 miliar atau setara Rp504 triliun.

        Data Forbes Real Time Billionaires per Minggu (18/10/2026) menempatkan Prajogo di posisi kedua orang terkaya di Indonesia. Posisi teratas ditempati Robert Budi Hartono dengan kekayaan sekitar US$13,2 miliar.

        Saham Grup Barito Berguguran

        Merosotnya kekayaan Prajogo sejalan dengan penurunan nilai saham sejumlah perusahaan Grup Barito yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Tiga emiten yang mengalami tekanan besar adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

        Hingga Oktober 2026, kapitalisasi pasar ketiga perusahaan tersebut menyusut lebih dari 34% dibandingkan posisi September 2026.

        BREN menjadi salah satu emiten yang mengalami penurunan nilai pasar paling tajam. Pada September 2026, kapitalisasi pasarnya tercatat Rp387,98 triliun. Angka tersebut sebenarnya sudah jauh di bawah posisi akhir 2025 yang mencapai Rp1.297 triliun.

        Penurunan berlanjut hingga kapitalisasi pasar BREN tersisa Rp248,17 triliun. Harga sahamnya juga merosot 80,88% sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd), dari level tertinggi Rp9.700 menjadi Rp1.855.

        Tekanan serupa dialami CUAN. Kapitalisasi pasar perusahaan ini turun 36,09% dari Rp94,99 triliun pada September 2026 menjadi Rp60,7 triliun. Harga saham CUAN tercatat Rp540, atau melemah 76,92% sepanjang 2026.

        Baca Juga: 6 Emiten Prajogo Pangestu Kompak ARB Usai IHSG Makin Anjlok

        Baca Juga: Tiga Sahamnya Turun Tajam, Prajogo Pangestu Siapkan Rp2,5 Triliun untuk Buyback

        Baca Juga: Emiten Prajogo (CUAN) Siapkan Rp500 Miliar untuk Buyback, Respons Saham Anjlok?

        Sementara itu, kapitalisasi pasar PTRO per Oktober 2026 mencapai Rp33,68 triliun. Nilai tersebut turun 34,84% dibandingkan posisi September 2026 sebesar Rp51,69 triliun.

        Di antara emiten Grup Barito yang disebutkan, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) mencatatkan penurunan kapitalisasi pasar yang relatif lebih kecil.

        Pada Oktober 2026, kapitalisasi pasar BRPT tercatat Rp113,43 triliun, turun 13,87% dibandingkan posisi September 2026 sebesar Rp131,71 triliun.

        Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan Grup Barito yang disebutkan dalam data tersebut kini tersisa Rp610,65 triliun. Nilai itu setara sekitar 6,66% dari total kapitalisasi pasar BEI pada pekan ini.

        Penurunan tersebut menggambarkan besarnya tekanan yang dihadapi saham-saham Grup Barito di tengah ketidakpastian pasar modal Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Merlina Aryanti
        Editor: Dian Ihsan

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: