Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

6 Emiten Prajogo Pangestu Kompak ARB Usai IHSG Makin Anjlok

6 Emiten Prajogo Pangestu Kompak ARB Usai IHSG Makin Anjlok Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jajaran emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu yang tergabung dalam Grup Barito kompak tersungkur hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB) pada menit-menit awal pembukaan perdagangan Sesi I, Senin (19/10/2026). Pergerakan masif ini sekaligus menguji pemberlakuan aturan baru ARB asimetris 7% yang resmi diterapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini.

​Koreksi tajam pada saham-saham berbobot besar (big cap) milik Grup Barito tersebut langsung menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berdasarkan data perdagangan BEI pukul 09.02 WIB, IHSG terjerembek 255,56 poin atau merosot -4,93% ke level 4.929,54. Sempat dibuka di posisi 4.961,87, laju indeks terus tergerus hingga menyentuh titik terendah harian (low) di level 4.928,04.

​Kedalaman tekanan jual di pasar teNode dari statistik perdagangan, di mana sebanyak 673 saham meluncur di zona merah dan hanya 55 saham yang sanggup bertahan menguat.

​Tekanan jual ekstrem membuat seluruh portofolio saham utama Prajogo Pangestu langsung terkunci pada batas bawah 7% sejak pembukaan bursa:

  • ​PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): Tergerus 6,93% ke level Rp376 per saham.
  • ​PT Petrosea Tbk (PTRO): Merosot 6,89% ke level Rp3.110 per saham.
  • ​PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Anjlok 6,74% ke level Rp1.730 per saham.
  • ​PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Terkoreksi 6,64% ke level Rp1.125 per saham.
  • ​PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Turun 6,61% ke level Rp1.130 per saham.
  • ​PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Melemah 6,48% ke level Rp505 per saham.

​ARB 7% Jadi Rem Darurat Penahan Indeks

​Kejatuhan saham-saham Grup Barito yang tertahan di kisaran 6%–7% ini membuktikan proyeksi para analis bahwa kebijakan ARB 7% efektif berfungsi sebagai rem darurat, mencegah IHSG terjun bebas seperti perdagangan Jumat lalu yang anjlok hingga -11,57%.

​Analis Pasar Modal, Nafan Aji Gusta, menilai kebijakan ARB 7% memberikan dampak signifikan dalam menahan kejatuhan indeks secara mendadak dalam satu hari transaksi.

Baca Juga: Tiga Sahamnya Turun Tajam, Prajogo Pangestu Siapkan Rp2,5 Triliun untuk Buyback

Baca Juga: BEI Batasi ARB Maksimal 7%, Berlaku Mulai Hari Ini

Baca Juga: BEI-OJK Temui MSCI Sore Ini, Minta Kejelasan soal Status Pasar Saham RI

​"Pembatasan ini secara matematis mengunci penurunan harga saham-saham berbobot besar agar tidak merosot lebih dari 7% per hari, sehingga mampu meredam koreksi tajam IHSG secara sekaligus dan menenangkan psikologi investor ritel," ujar Nafan.

​Kendati demikian, Nafan mengingatkan adanya konsekuensi teknis bagi emiten yang terkena batas ARB, yakni proses pencarian harga keseimbangan baru yang berpotensi memakan waktu beberapa hari berturut-turut.

​"Terdapat konsekuensi di mana proses pencarian harga keseimbangan baru bisa memakan waktu beberapa hari berturut-turut (auto reject beruntun) jika tekanan jual masih tinggi, yang berisiko menahan tingkat likuiditas market untuk sementara waktu," tambah Nafan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan