Pakar Beri Nilai Minus untuk 2 Tahun Rezim Prabowo-Gibran: Tanya Sama Orang Aceh sampai Papua!
Kredit Foto: Istimewa
2 Tahun Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diwarnai oleh evaluasi tajam dari kalangan pakar. Alih-alih mendapatkan apresiasi atas kinerjanya, duet kepemimpinan ini justru dinilai telah kehilangan pijakan legitimasi di mata rakyat. Sentimen negatif dan kemarahan publik disebut-sebut telah meluas secara merata di Nusantara.
Pengamat Politik dan Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saiful Mujani secara blak-blakan memberikan rapor merah, bahkan minus, terhadap status legitimasi kekuasaan Kabinet Merah Putih.
Baca Juga: Pakar Nilai Prabowo Tak Seperti SBY: Gibran Tak Diberikan Kerjaan Jelas Selama 2 Tahun Menjabat!
Menurutnya, penerimaan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini telah anjlok ke titik nadir, yang terefleksi dari tingginya gelombang ketidakpuasan di berbagai daerah.
"Tanya sama orang dari Aceh sampai Papua. Kalau ditanya sekarang, hampir bisa dikatakan sudah minus legitimasi itu, dan umumnya rakyat sudah marah. Tentu saja ada yang tidak marah, tapi umumnya sudah marah, dari Aceh sampai Papua," kata Saiful dikutip Selasa (20/10/2026).
Pernyataan Saiful ini sejalan dengan temuan riset teranyar yang dirilis oleh SMRC. Survei 1-10 Oktober 2026 tersebut menunjukkan tingkat keterpilihan atau elektabilitas presiden hancur lebur di angka 9,8 persen.
Prabowo tertinggal sangat jauh dari tokoh-tokoh lain seperti Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dedi diketahui memuncaki survei dengan 35,5 persen. Nasib serupa dialami Wapres Gibran. Ia hanya mengantongi elektabilitas 8,4 persen.
Saiful menyimpulkan bahwa jika pemilihan umum diselenggarakan hari ini, mayoritas absolut masyarakat tidak akan bersedia lagi memberikan suaranya untuk pasangan Prabowo-Gibran. Saking marahnya masyarakat, ia menegaskan bahwa pihak penguasa harus mulai mawas diri dan menyadari bahwa mandat kekuasaan mereka secara sosiologis sebenarnya sudah runtuh.
Meski demikian, klaim hilangnya legitimasi tersebut dibantah keras oleh Istana. Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Syahganda Nainggolan tampil ke publik untuk menetralisir narasi kemarahan rakyat yang digaungkan oleh SMRC.
Syahganda menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap pemerintah masih sangat solid dan terjaga di level yang memuaskan. Ia menyodorkan data pembanding dari berbagai lembaga riset lain yang menunjukkan potret sebaliknya.
"Hari ini kan Poltracking juga 55 persen ya. PPI 65 persen tingkat kepuasannya (Prabowo)," ujar Syahganda.
Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Soal APBD: Meski Dana Bagi Hasil Tertunda, Kita Tetap Ngebut Membangun
Ia mengklaim bahwa capaian dukungan terhadap presiden saat ini bahkan jauh melampaui persentase perolehan suara pada saat masa pemilihan lalu, terbalik dengan apa yang digaungkan oleh SMRC.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar