Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Sudaryono BGN Ingin Sikat Bersih Yayasan Calo: 'Modalin Enggak, Tapi Minta Jatah Per Porsi'

        Sudaryono BGN Ingin Sikat Bersih Yayasan Calo: 'Modalin Enggak, Tapi Minta Jatah Per Porsi' Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menegaskan pihaknya akan terus menindak yayasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memiliki peranan apa pun.

        Menko Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menambahkan, yayasan tersebut kerap melakukan kolusi dengan oknum di BGN.

        "Kita lebih mengakomodir bagaimana praktik-praktik sebelumnya, di mana ada yayasan-yayasan yang hanya, mohon maaf, tidak ada peranan itu kemudian kami berusaha untuk kami bersihkan,” ujar Sudaryono dalam rapat MBG di Kemenko Pangan, Senin (19/10/2026).

        Zulhas menjelaskan, dulu yayasan dibentuk hanya untuk menentukan titik dan bekerja sama secara kolusi.

        "Nah, itu yang dibersihkan, kayak begitu-begitu enggak boleh lagi, dibersihkan sama sekali. Dan kalau ada kesalahan yang sengaja, jelas terang benderang, kemudian bisa dibawa ditindaklanjuti ya,” timpalnya.

        Usai rapat, Sudaryono menyebut yayasan yang ditindak adalah yayasan calo. Orang di baliknya tidak punya modal, meski memiliki banyak yayasan.

        "Makanya yang saya maksud pembersihan itu adalah yayasan-yayasan calo. Paham kan maksud saya kan? Yayasan calo. Dia bikin yayasan banyak, nggak punya duit,” jelasnya.

        Menurut Sudaryono, yayasan calo bekerja sama dengan oknum BGN terdahulu untuk menawarkan titik-titik dapur MBG.

        Setelah dapur dibangun dan beroperasi, mereka meminta jatah Rp500 hingga Rp1.000 per ompreng atau porsi.

        "Setelah bangun, jalan, dia minta, ‘eh, per ompreng minta Rp 500 ya, minta Rp 1.000 ya.’ Dia nggak ada peranan apa-apa, dia ngelola dapur nggak, ikut bangun nggak, modalin nggak, cuman hanya karena dia punya yayasan yang punya titik di BGN,” tegasnya.

        Praktik ini menambah rente dan dinilai tidak adil. Akibatnya, kualitas makanan berpotensi turun.

        "Itu yang kita rasa tidak adil, sehingga menambah rente. ... Yang dilakukan apa? Pasti menurunkan kualitas makanan, ya. Sehingga saya ingin membersihkan yayasan-yayasan yang nyalo,” imbuh Sudaryono.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: