Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bidik Pasar Dana Pensiun, Batavia Prosperindo AM Incar 3 Klien Institusi Baru

        Bidik Pasar Dana Pensiun, Batavia Prosperindo AM Incar 3 Klien Institusi Baru Kredit Foto: Merlina Aryanti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen (Batavia) mulai merambah bisnis pengelolaan dana pensiun melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Perusahaan menargetkan tambahan dua hingga tiga klien institusi baru hingga akhir 2026.

        Direktur Utama Batavia, Lilis Setiadi mengatakan DPLK Batavia baru memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 15 September 2026. Sejak izin tersebut terbit, perusahaan terus mempersiapkan operasional, infrastruktur, serta pengembangan produk untuk mendukung bisnis barunya.

        Saat ini, DPLK Batavia telah memiliki satu klien institusi. Namun, perusahaan belum dapat mengungkapkan identitas klien tersebut karena alasan kerahasiaan.

        “Kita sudah mempunyai satu klien institusi, tapi mohon maaf belum bisa kami disclose karena masih confidential. Mudah-mudahan sampai akhir tahun kita bisa punya tambahan dua atau tiga klien baru di DPLK kita,” ujar Lilis dalam sesi tanya jawab bersama media di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

        Meski mulai memperoleh kepercayaan dari klien institusi, Batavia belum memasang target besar untuk dana kelolaan DPLK pada tahap awal. Perusahaan memperkirakan dana kelolaan pada tahun pertama masih di bawah Rp100 miliar.

        Lilis menjelaskan, pengembangan bisnis DPLK membutuhkan waktu karena proses untuk mendapatkan klien institusi cenderung lebih panjang dibandingkan penugasan pengelolaan investasi biasa.

        Menurutnya, perusahaan yang ingin mengikuti program DPLK perlu melalui sejumlah tahapan, mulai dari sosialisasi kepada karyawan, pemilihan program pensiun, hingga penempatan dana. Keseluruhan proses tersebut dapat memakan waktu enam bulan hingga tiga tahun.

        “Dalam setahun pertama kita mungkin masih di bawah Rp100 miliar. Sesudah itu mungkin triliunan kali ya. Saya ngomongin satu tahun ke depan dulu,” ungkapnya.

        Untuk mendukung pengembangan bisnis tersebut, Batavia menyiapkan beragam pilihan produk investasi. Pilihannya mencakup instrumen pasar uang dalam rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS), pendapatan tetap dalam rupiah dan dolar AS, saham rupiah, serta produk kombinasi dari berbagai instrumen investasi.

        Strategi investasi akan disesuaikan dengan profil risiko dan kebutuhan setiap peserta maupun klien institusi. Dengan begitu, peserta dapat memilih program pensiun yang sesuai dengan kondisi dan tujuan keuangan mereka.

        Baca Juga: Pasar Modal Bergejolak, Batavia Pede AUM Tembus Rp60 Triliun

        Baca Juga: OJK Sahkan Pembentukan DPLK Batavia Prosperindo Aset Manajemen

        Tak hanya menyasar pekerja formal, Batavia juga melihat peluang dari kalangan pekerja informal dan pekerja lepas atau gig workers. Kelompok ini dinilai masih memiliki akses yang terbatas terhadap program pensiun sukarela.

        Lilis menilai, rendahnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menyiapkan dana pensiun menjadi salah satu alasan Batavia masuk ke bisnis tersebut. Padahal, persiapan dana pensiun sejak dini dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan finansial ketika tidak lagi aktif bekerja.

        Untuk memperluas jangkauan, Batavia berencana mengembangkan jalur distribusi dan akses layanan agar produk DPLK dapat menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat.

        Melalui ekspansi ini, Batavia berharap dapat memperkuat bisnis pengelolaan investasinya sekaligus mendorong semakin banyak masyarakat Indonesia untuk mempersiapkan dana pensiun.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Merlina Aryanti
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: