Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Rebound 5,63%, Astronacci Bidik Target Pemulihan Berikutnya di 5.803

        IHSG Rebound 5,63%, Astronacci Bidik Target Pemulihan Berikutnya di 5.803 Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 5,63% ke level 5.278 pada perdagangan 20 Oktober 2026 setelah sebelumnya tertekan tajam di tengah kekhawatiran pasar terkait rencana reklasifikasi status Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Founder dan CEO Astronacci International, Gema Goeyardi, menilai penguatan tersebut sejalan dengan proyeksi time support yang disampaikannya sehari sebelum rebound terjadi.

        Dalam analisis yang dibagikan melalui A-CLUB dan kanal YouTube Astronacci pada 19 Oktober 2026, Gema mengidentifikasi periode 20–21 Oktober sebagai waktu potensial bagi IHSG untuk membentuk titik terendah atau bottomsebelum berbalik arah.

        Proyeksi itu menggunakan metode analisis siklus waktu Astronacci, yang antara lain mengidentifikasi tanggal tertentu sebagai periode potensial perubahan tren pasar.

        “Saya percaya, IHSG akan naik kembali dan akan all time high kembali. Besok (20 Oktober 2026) akan gap down, tutupnya candle hijau gede,” ujar Gema saat ditemui di Beijing, China.

        Pada perdagangan 20 Oktober 2026, IHSG tercatat menguat 5,63% dan ditutup di level 5.278. Berdasarkan materi Astronacci, penguatan tersebut terjadi setelah indeks menyentuh area support 4.947–5.050.

        Meski pergerakan tersebut sejalan dengan proyeksi waktu yang disampaikan Gema, satu kali rebound belum cukup untuk memastikan pembentukan dasar pasar atau keberlanjutan tren kenaikan. Pergerakan selanjutnya tetap dipengaruhi kondisi fundamental, arus modal, dan sentimen investor.

        MSCI dan Tekanan terhadap Pasar Saham

        Tekanan terhadap IHSG sebelumnya meningkat setelah MSCI mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026.

        Usulan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia, terutama terkait daya tarik saham domestik bagi investor global dan potensi perubahan aliran dana.

        Di tengah kondisi tersebut, Gema membagikan analisis mengenai potensi titik pembalikan IHSG. Dalam materi promosinya, Astronacci menyebut periode 20–21 Oktober sebagai vibrational date, yakni periode yang menurut metode mereka berpotensi berkaitan dengan perubahan arah pasar.

        Gema juga mengaitkan tekanan pasar pada Oktober 2026 dengan fenomena astrologi Mars Trine Saturn. Ia menyoroti kemiripan waktu fenomena tersebut dengan koreksi IHSG pada April 2025.

        Pada April 2025, IHSG mengalami koreksi tajam sebelum memasuki fase pemulihan. Sementara itu, pada 16 Oktober 2026, IHSG tertekan hingga level 5.185,11 di tengah gejolak pasar.

        Astronacci menggunakan kemiripan periode tersebut sebagai konteks tambahan dalam analisis siklus waktu. Namun, hubungan antara fenomena astrologi dan pergerakan harga saham tidak dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan sebab-akibat.

        Target Pemulihan IHSG di Level 5.803

        Selain periode time support, Gema menyoroti level 5.803 sebagai target pemulihan IHSG berikutnya. Level tersebut disebut sebagai area gap yang terbentuk ketika indeks mengalami tekanan jual.

        Apabila momentum penguatan berlanjut, IHSG berpotensi menguji area tersebut. Namun, pencapaian target bergantung pada kekuatan permintaan saham, perkembangan sentimen global, serta respons investor terhadap prospek pasar Indonesia.

        Dalam unggahan Instagram pada 19 Oktober 2026, Gema juga menyampaikan harapannya agar IHSG ditutup dengan candle hijau pada perdagangan berikutnya.

        Baca Juga: IHSG Mulai Bangkit, tapi Pemulihan Pasar Saham Belum Aman!

        Baca Juga: IHSG Bangkit 0,94% ke 5.328, Pasar Cermati Sinyal BI dan Prabowo!

        “Kalaupun closing red lagi, it's okay. 20 tahun saya di pasar saham sejak 2006, short term pain, long term gain. History will repeat itself!” tulisnya.

        Rebound IHSG pada 20 Oktober menjadi perkembangan positif setelah tekanan jual yang tajam. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati keberlanjutan penguatan, kondisi fundamental emiten, serta risiko pasar sebelum mengambil keputusan investasi. Analisis siklus waktu Astronacci merupakan pendekatan yang digunakan oleh penyedianya dan bukan jaminan atas arah pergerakan indeks selanjutnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: