Kredit Foto: Ist
Pendukung garis keras Presiden Prabowo Subianto, Alimuddin, menilai kepala negara tidak lagi memiliki kepentingan pribadi yang perlu dikejar selain mengabdi kepada rakyat.
Ia berpendapat, kemapanan ekonomi dan kondisi keluarga Prabowo menjadi faktor yang membuat presiden dapat memusatkan perhatian pada kepentingan masyarakat.
Ia menyebut Prabowo sebagai sosok yang telah mapan secara ekonomi dan hanya memiliki satu anak biologis, Ragowo Hediprasetyo atau Didit Prabowo.
“Kalau saya boleh bilang, Prabowo bagian dari orang kaya atau mungkin kasarnya oligarki. Iya, dia sudah selesai dengan kebutuhannya,” kata Alimuddin.
“Dia cuma punya Didit, anak biologisnya. Nggak ada kepentingan lain, kepentingannya Prabowo hari ini adalah rakyat,” lanjutnya.
Menurut Alimuddin, kondisi tersebut membuat Prabowo dapat memusatkan perhatian pada berbagai program yang dinilai menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Ia menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari bantuan sosial hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebagai bentuk perhatian negara terhadap masyarakat.
Alimuddin menilai perhatian pemerintah terhadap rakyat seharusnya berlangsung secara berkelanjutan, sejak seseorang masih berada di dalam kandungan hingga memasuki usia lanjut.
Untuk kelompok lanjut usia, ia mencontohkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan sosial, serta bantuan asistensi rehabilitasi sosial atau atensi.
Menurutnya, berbagai program tersebut menunjukkan bentuk dukungan negara kepada masyarakat pada setiap tahap kehidupan.
“Artinya, dari nol, dari kita belum lahir, dari sembilan bulan di dalam kandungan ibu kita, sampai nanti kita sudah di usia tua, itu kita diperhatikan oleh negara,” ujarnya.
Selain menyoroti program bantuan sosial, Alimuddin turut membahas program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo.
Ia menyebut program tersebut telah menjangkau sekitar 56 juta penerima melalui lebih dari 27.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Meski mendukung pelaksanaannya, Alimuddin mengakui program MBG masih menghadapi sejumlah persoalan di lapangan.
Beberapa masalah yang disorot antara lain sanitasi dapur penyedia makanan dan kasus keracunan makanan yang mengakibatkan sejumlah siswa harus mendapatkan perawatan medis.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: