Kredit Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Gelombang pembelian kembali saham atau buyback semakin ramai di tengah gejolak pasar modal Indonesia. Sebanyak 17 emiten tercatat memiliki rencana buyback dengan total nilai mencapai Rp17,12 triliun.
Berdasarkan rangkuman informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) per Kamis (22/10/2026), sejumlah perusahaan berkapitalisasi besar dari sektor perbankan, energi, pertambangan, hingga infrastruktur masuk dalam daftar emiten yang menyiapkan aksi korporasi tersebut.
Langkah buyback ini menjadi perhatian di tengah upaya pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) setelah mengalami tekanan jual tajam dalam beberapa perdagangan terakhir.
Secara umum, buyback merupakan aksi perusahaan membeli kembali sahamnya yang beredar di pasar. Kebijakan ini dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendukung stabilitas harga saham sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Namun, dampaknya terhadap pergerakan harga saham tetap bergantung pada realisasi pembelian, besaran dana yang digunakan, serta kondisi pasar.
Dari daftar tersebut, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyiapkan nilai buyback terbesar, yakni Rp5 triliun, dengan periode pelaksanaan 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.
Posisi berikutnya ditempati PT United Tractors Tbk (UNTR) yang mengalokasikan dana hingga Rp2 triliun untuk pembelian kembali saham sepanjang 1 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Sementara itu, sejumlah emiten lainnya menyiapkan dana buyback masing-masing Rp1 triliun, termasuk PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga masuk dalam kelompok emiten yang mengalokasikan dana buyback hingga Rp1 triliun.
Keterlibatan sejumlah bank besar turut menjadi sorotan. Selain BBCA dan BBRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyiapkan Rp1,17 triliun, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengalokasikan Rp627 miliar.
Di tengah ketidakpastian pasar, aksi buyback berpotensi memberikan tambahan permintaan terhadap saham masing-masing emiten. Kendati demikian, nilai yang disiapkan merupakan batas atau alokasi rencana pembelian, bukan jumlah yang dipastikan telah direalisasikan.
Baca Juga: AMMN Siapkan Buyback Saham Rp1 Triliun hingga Januari 2027
Baca Juga: Fluktuasi di Bursa, BRI Siap Buyback Saham Rp1 Triliun
Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Buka Ruang Jalani Buyback Saham
Periode pelaksanaan yang berbeda juga menunjukkan bahwa tidak seluruh rencana buyback tersebut merupakan aksi korporasi baru pada Oktober 2026.
Adapun daftar lengkap 17 emiten beserta nilai dan periode rencana buyback saham berdasarkan data yang dihimpun per 22 Oktober 2026 adalah sebagai berikut:
- AMMN – Rp1 triliun (22 Oktober 2026–22 Januari 2027).
- BBRI – Rp1 triliun (22 Oktober 2026–21 Januari 2027).
- MBSS – Rp200 miliar (22 Oktober–31 Desember 2026).
- PBSA – Rp100 miliar (20 Oktober 2026–19 Januari 2027).
- DSSA – Rp1 triliun (19 Oktober 2026–18 Januari 2027).
- BREN – Rp1 triliun (19 Oktober–31 Desember 2026).
- CUAN – Rp500 miliar (19 Oktober–31 Desember 2026).
- TPIA – Rp1 triliun (20 Oktober–31 Desember 2026).
- BRPT – Rp1 triliun (19 Oktober–31 Desember 2026).
- AALI – Rp400 miliar (2 Oktober–28 Desember 2026).
- UNTR – Rp2 triliun (1 Oktober–31 Desember 2026).
- TOWR – Rp500 miliar (30 September–30 Desember 2026).
- HRUM – Rp120 miliar (28 September–24 Desember 2026).
- KLBF – Rp500 miliar (17 September–17 Desember 2026).
- BBCA – Rp5 triliun (12 Maret 2026–11 Maret 2027).
- BBNI – Rp627 miliar (27 Juli–26 Oktober 2026).
- BMRI – Rp1,17 triliun (30 April 2026–29 April 2027).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: