Kredit Foto: Perhutani
Perum Perhutani bergerak cepat begitu api muncul di lereng Gunung Lawu. Petugas dan pejabat Perhutani dari lokasi kebakaran melaporkan, pada 15 Oktober 2026 tim Perhutani menemukan lima titik api di petak 28 dan 32 RPH Blumbang, BKPH Lawu Utara, KPH Surakarta. Hari itu juga petugas turun memadamkan api dengan cara manual. Mereka memakai gepyok dan jet shooter.
Petugas berompi oranye merangsek ke tepi api. Nyala api menjilat semak kering di lereng. Asap putih bergulung dari sela tegakan dan nyaris menutup pandangan. Petugas tetap bertahan, memukul api dengan alat di tangan.
Angin kencang menyulitkan pemadaman. Api merembet ke blok wilayah Taman Hutan Raya (Tahura) Mangkunegoro I. Meski begitu, sehari kemudian api di kawasan hutan Perhutani seluas 34,55 hektare sudah padam dan masuk tahap pendinginan. Api yang telanjur masuk ke Tahura justru makin besar.
Pada 16 sampai 18 Oktober kebakaran mulai mereda. Petugas tidak lengah. Pagi 18 Oktober mereka menyisir petak hangus di RPH Blumbang pada ketinggian sekitar 1.900 meter.
Di Gondosuli, Karanganyar, hampir 2.000 meter di atas permukaan laut, seorang petugas mengorek tanah berasap dengan alat bergagang panjang. Siang harinya rombongan petugas memanggul tangki air di punggung.
Mereka berjalan beriringan menembus hutan yang sudah hangus. Ada yang membungkuk di pangkal pohon, mematikan bara yang tersembunyi di akar dan serasah. Di udara, helikopter membawa ember air yang tergantung di ujung tali.
Namun pagi 19 Oktober angin kembali kencang. Api membesar ke arah Pos 4 Cokro Suryo, lalu menyebar ke jalur Segorogunung. Pada 20 Oktober tercatat 12 titik panas di wilayah Perhutani. Sebelas di petak 63A-1 dan satu di petak 63A-2. Peta pantauan satelit dipakai untuk mengikuti sebaran titik panas itu.
Baca Juga: Perum Jasa Tirta II Kantongi Revenue Rp1 Triliun, 48,7% Disumbang PLTA
Baca Juga: PTPN III Ikut Kawal Koperasi Merah Putih, Pasokan Beras hingga LPG Jadi Fokus
Baca Juga: 700 Perusahaan Bakal Ditutup, Laba BUMN Target Tembus Rp334 Triliun
Perhutani Tidak Bekerja Sendiri
Bersama TNI, Polri, BPBD dan sukarelawan, Perhutani mengamankan pipa air bersih sambil terus memadamkan api. Perhutani menurunkan tim khusus 15 orang untuk membuat ilaran selebar 5 meter di sepanjang lokasi kebakaran supaya api tidak melebar.
Kerja keras itu berbuah. Menurut laporan dari lapangan, sejak 23 Oktober api mulai padam. Pada 24 Oktober relawan dan petugas Perhutani mendinginkan bekas lokasi kebakaran dengan jet shooter dan cairan fire ade bantuan Damkar Solo. Sasarannya tunggak pohon yang masih menyimpan bara.
Hari itu langit Tawangmangu mendung dan hujan ringan turun. Jalan basah dan air menggenang di tepi jalan. Hujan ini diharapkan mempercepat pendinginan bekas lokasi kebakaran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: