Menteri Ekraf Teuku Riefky Kenakan Busana ala 'Gadis Kretek' Sambut Delegasi WCCE 2026, Gaungkan Potensi Lokal Mendunia
Kredit Foto: Istimewa
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengenakan busana terinspirasi serial Indonesia Gadis Kretek saat menyambut delegasi World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Rabu (21/10/2026) malam.
Bersama istrinya, Adinda Yuanita, Teuku Riefky mengenakan kebaya janggan dan beskap dalam acara welcoming dinner di Akasta, Jakarta. Pilihan busana tersebut menjadi simbol potensi cerita dan budaya Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif yang mampu menjangkau pasar internasional.
Serial Gadis Kretek diadaptasi dari novel karya Ratih Kumala. Saat dirilis, serial tersebut mencatatkan popularitas di Netflix, termasuk menembus jajaran 10 besar global.
Teuku Riefky menilai perjalanan karya tersebut menunjukkan bahwa sastra lokal dapat berkembang menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi ketika diolah melalui industri audiovisual.
“Ini menjadi contoh bagaimana karya sastra lokal dapat menjangkau pasar global dan berkembang menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi,” ujarnya dalam sambutan.
Menurutnya, potensi ekonomi kreatif tidak terbatas pada film dan serial. Kolaborasi sastra, produksi audiovisual, desain busana, seni pertunjukan, musik, dan subsektor lainnya dapat memperluas nilai sebuah karya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pelaku kreatif.
Semangat kolaborasi itu turut dihadirkan dalam jamuan makan malam di Akasta, yang memadukan kuliner, teater, dan pertunjukan dalam satu pengalaman bagi para tamu.
Teuku Riefky menyambut para menteri, duta besar, anggota International Steering Committee, pembicara, pelaku kreatif, mitra, dan peserta dari berbagai negara. Ia juga mengapresiasi partisipasi delegasi dalam pertemuan Friends of Creative Economy dan kunjungan ke Creativillage yang berlangsung pada hari yang sama.
Ia menekankan bahwa kolaborasi menjadi salah satu fondasi untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kuat dan inklusif. Karya yang mampu menembus pasar global, menurutnya, lahir dari pertemuan berbagai talenta, gagasan, komunitas, dan bidang usaha.
Baca Juga: Operasi Patuh 2026 Dimulai 26 Oktober, Ini 11 Pelanggaran Lalu Lintas yang Disasar
Pesan tersebut mengawali rangkaian agenda utama WCCE 2026, yang berlanjut dengan pleno dan pertemuan tingkat menteri. Mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, edisi kelima konferensi ini diharapkan menjadi ruang bagi negara-negara dan pemangku kepentingan untuk menyelaraskan arah pengembangan ekonomi kreatif global.
“Malam ini bukan hanya tentang perayaan. Malam ini adalah tentang keterhubungan,” kata Teuku Riefky.
Melalui WCCE 2026, Indonesia mendorong penguatan kolaborasi lintas negara dan subsektor agar semakin banyak karya serta talenta kreatif Indonesia berpeluang menjangkau pasar global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat