Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PMI Manufaktur Ekspansi, Pemerintah Bidik Utilisasi Industri 85%

        PMI Manufaktur Ekspansi, Pemerintah Bidik Utilisasi Industri 85% Kredit Foto: Polychem Indonesia
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Aktivitas manufaktur Indonesia kembali berada di zona ekspansi pada September 2026. Namun, pemerintah masih melihat ruang untuk meningkatkan produksi melalui optimalisasi kapasitas industri yang sudah tersedia, mengingat tingkat utilisasi saat ini baru mendekati 70%.

        Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menargetkan utilisasi industri nasional meningkat menjadi 80%, bahkan hingga 85% jika memungkinkan. Peningkatan tersebut dinilai dapat memperbesar kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) dan pertumbuhan ekonomi tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pembangunan kapasitas produksi baru.

        "Utilisasi industri kita saat ini baru hampir 70 persen. Ini akan terus kita dorong agar bisa mencapai 80 persen, bahkan kalau memungkinkan hingga 85 persen. Dengan meningkatkan utilisasi dari kapasitas yang sudah tersedia saja, kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi dan PDB nasional akan sangat signifikan," kata Sarmuji seusai menerima kunjungan Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (26/10/2026).

        Salah satu indikator yang menjadi perhatian pemerintah adalah Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global. Indeks tersebut meningkat dari 49,8 pada Agustus 2026 menjadi 52,4 pada September 2026.

        Angka di bawah 50 menunjukkan kontraksi, sedangkan angka di atas 50 menandakan ekspansi aktivitas manufaktur. Dengan demikian, data September menunjukkan aktivitas manufaktur kembali tumbuh setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

        Indikator lain juga memperlihatkan perkembangan serupa. Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) tercatat sebesar 52,28 pada kuartal III 2026, meningkat dibandingkan 51,43 pada kuartal II 2026 dan 51,66 pada kuartal III 2025.

        Sarmuji menilai perkembangan tersebut menjadi modal untuk mendorong produktivitas industri pada sisa tahun ini. Ia juga memperkirakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

        "Data ini menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Kami juga optimistis Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober akan meningkat dibandingkan September. Artinya, para pelaku industri memiliki keyakinan bahwa kondisi industri akan semakin membaik ke depan," ujarnya.

        Gas dan Permintaan Akhir Tahun Jadi Penentu

        Selain indikator aktivitas manufaktur, ketersediaan energi menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan kemampuan industri meningkatkan produksi. Sarmuji menyoroti kebutuhan gas bumi, terutama bagi subsektor yang mengandalkan komoditas tersebut sebagai bahan baku maupun sumber energi utama.

        Menurutnya, pemenuhan kebutuhan gas, termasuk melalui kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), dapat mendukung peningkatan kinerja manufaktur hingga akhir 2026.

        "Kalau melihat perkembangan datanya, kami optimistis kinerja industri sampai akhir tahun akan terus meningkat. Apalagi jika kebutuhan gas untuk sektor industri dapat terpenuhi, termasuk melalui HGBT, tentu ini akan menjadi dorongan yang sangat baik bagi peningkatan produksi industri," tuturnya.

        Baca Juga: Pasokan Gas Ditambah, Menperin Bidik Utilisasi Manufaktur 85%

        Baca Juga: Industri Berharap Tambahan Gas Masuk Skema HGBT, Utilisasi Keramik Tertekan

        Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan, kunjungannya ke Kementerian Perindustrian merupakan bagian dari koordinasi pemerintah untuk mengidentifikasi sumber pertumbuhan ekonomi baru, terutama dari sektor industri dan bidang usaha yang mendukungnya.

        Dradjad menilai perkembangan sektor manufaktur dan meningkatnya kepercayaan pelaku industri membuka peluang untuk memperkuat kontribusi sektor tersebut terhadap perekonomian.

        Sejumlah subsektor yang dinilai berpotensi didorong antara lain makanan dan minuman serta industri agro. Aktivitas produksi di kawasan industri dan kawasan berikat juga menjadi perhatian pemerintah.

        Menurut Dradjad, peningkatan utilisasi merupakan salah satu cara untuk mengakselerasi pertumbuhan manufaktur. Strategi tersebut dapat dilakukan dengan mengoptimalkan fasilitas produksi yang sudah tersedia, terutama ketika permintaan pasar berpotensi meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

        "Di sektor industri, peningkatan utilisasi dapat menjadi bentuk intensifikasi industri. Dengan memanfaatkan kapasitas produksi yang sudah tersedia, kita memiliki peluang besar untuk mendorong pertumbuhan industri lebih tinggi, terutama dengan adanya peningkatan permintaan menjelang Nataru," jelasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ilham Nurul Karim
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: