Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Minyak Dunia Tembus US$116 per Barel, Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi

        Minyak Dunia Tembus US$116 per Barel, Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi Kredit Foto: Aryo Hadi Wibowo
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Lonjakan harga minyak dunia hingga US$115–116 per barel menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik. Di tengah kenaikan harga energi global, pemerintah memilih menahan harga sejumlah barang bersubsidi agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan.

        Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengatakan kebijakan menahan harga barang bersubsidi merupakan salah satu upaya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam meredam gejolak ekonomi akibat tekanan global.

        “Harga minyak hari-hari ini udah 115–116 dolar, tapi sejumlah produk barang bersubsidi di dalam negeri tetap kita tahan,” ujar Suahasil dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum, Senin (27/10/2026), terkait pembahasan prospek ekonomi.

        Menurutnya, APBN tidak hanya berfungsi mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga stabilitas ketika kondisi global mengalami turbulensi. Pemerintah berupaya mencegah gejolak eksternal merambat terlalu besar ke aktivitas ekonomi dalam negeri..

        Namun, kebijakan tersebut juga menuntut pengelolaan fiskal yang hati-hati. Ketika harga minyak dunia meningkat, tekanan terhadap anggaran berpotensi membesar, terutama jika pemerintah harus mempertahankan harga energi bersubsidi di dalam negeri.

        Suahasil menegaskan, APBN harus tetap sehat dan kredibel melalui pengendalian defisit yang terukur. Pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

        Kondisi ini membuat pemerintah harus menjaga keseimbangan antara perlindungan daya beli masyarakat dan keberlanjutan anggaran. Ketika harga minyak meningkat, biaya yang ditanggung negara untuk mendukung konsumsi energi bersubsidi berpotensi ikut bertambah.

        Suahasil menegaskan, APBN tidak hanya bertugas mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas, tetapi juga harus tetap kredibel. Karena itu, pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).

        “Tidak boleh defisit yang tidak terukur. Karena itu, komitmen kami kepada defisit anggaran di bawah 3% menjadi sesuatu yang terus kami gaungkan,” tegasnya.

        Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 0,57%, Brent Bertahan di Atas US$115 per Barel

        Baca Juga: Awal Pekan, Harga Minyak Dunia Turun ke Level US$102 Per Barel

        Dengan harga minyak yang masih tinggi, tantangan pemerintah bukan sekadar menjaga harga barang bersubsidi, melainkan memastikan belanja negara tetap terkendali tanpa mengurangi kemampuan APBN menopang aktivitas ekonomi masyarakat

        Dengan demikian, pemerintah menghadapi dua kepentingan sekaligus, yakni meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap masyarakat dan menjaga kesehatan keuangan negara agar tetap mampu menopang perekonomian.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aryo Hadi Wibowo
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: