Pakar Nilai Indonesia Perlu Beralih ke Industri Berteknologi Tinggi untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Profesor César A. Hidalgo menilai posisi Indonesia saat ini berada di sekitar garis ekuilibrium antara tingkat kompleksitas ekonomi dan pendapatan per kapita. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan dari struktur industri yang ada saat ini dinilai hampir terutilisasi penuh.
“Untuk mendorong lompatan ekonomi berikutnya, transformasi struktural menuju sektor-sektor yang lebih kompleks adalah keharusan mutlak,” ujar Hidalgo dalam pemaparannya di Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, kompleksitas ekonomi dapat menjadi salah satu indikator untuk membaca arah pertumbuhan jangka panjang suatu negara. Indikator tersebut tidak hanya berkaitan dengan nilai pendapatan, tetapi juga kemampuan suatu perekonomian dalam menguasai pengetahuan dan menghasilkan beragam produk yang membutuhkan kapabilitas teknologi.
Hidalgo menjelaskan, struktur ekspor Indonesia mengalami perubahan dalam beberapa dekade terakhir. Pada 1986, ekspor Indonesia didominasi minyak mentah, minyak kelapa sawit, serta sejumlah produk awal industri garmen.
Memasuki 1996, Indonesia mulai memperluas kapasitas ekonominya melalui ekspansi sektor pakaian jadi dan tekstil. Perkembangan tersebut berlanjut hingga 2006, ketika industri garmen semakin terkonsolidasi dan mulai merambah kluster elektronik serta permesinan perakitan.
Namun, struktur ekspor Indonesia saat ini kembali terkonsentrasi pada produk mineral di area pinggiran peta kompleksitas ekonomi, termasuk ferro-alloy dan nikel olahan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi Indonesia untuk memperluas basis industri ke sektor yang memiliki keterkaitan pengetahuan lebih beragam.
Hidalgo menekankan bahwa besarnya nilai perdagangan suatu komoditas tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuannya mendorong diversifikasi industri. Komoditas mentah, seperti minyak bumi, dapat menghasilkan devisa besar, tetapi pengetahuan yang dibutuhkan untuk mengekstraksinya relatif spesifik dan tidak selalu mudah dialihkan ke sektor manufaktur lain.
Sebaliknya, industri manufaktur tertentu dapat menjadi pijakan untuk memasuki sektor lain yang memiliki kesamaan kapabilitas teknologi dan pengetahuan.
Hidalgo juga mengingatkan bahwa kedekatan dalam rantai nilai tidak selalu menunjukkan kedekatan pengetahuan. Hal tersebut terlihat dalam hubungan antara industri pertambangan nikel dan manufaktur baterai kendaraan listrik.
Meskipun nikel menjadi salah satu bahan baku baterai, kemampuan mengekstraksi bijih nikel berbeda dari keahlian kimiawi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel baterai.
“Oleh karena itu, strategi pembangunan ekonomi tidak bisa hanya dipandang secara mekanistik melalui skema input-output rantai pasok semata,” kata Hidalgo.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan industri hilir perlu disertai pembangunan kapabilitas teknologi yang sesuai. Ketersediaan bahan baku dan keterkaitan rantai pasok saja tidak otomatis membuat suatu negara mampu menguasai seluruh tahapan produksi dengan teknologi yang lebih kompleks.
Untuk memasuki sektor yang memiliki jarak pengetahuan lebih jauh dari kemampuan domestik saat ini, Hidalgo menyebut perlunya strategi transfer teknologi dan penarikan keahlian dari luar negeri.
Baca Juga: Perluas Manfaat Ekonomi Digital, TelkomGroup Dorong Penguasaan Teknologi secara Mandiri
Di sisi lain, pengembangan industri juga perlu mempertimbangkan kemampuan yang telah dimiliki tenaga kerja dan perusahaan lokal. Sektor yang memiliki kedekatan dengan kapabilitas yang sudah tersedia dinilai berpotensi lebih mudah dikembangkan dibandingkan industri yang membutuhkan pengetahuan baru secara mendasar.
Hidalgo turut menggunakan indeks kompleksitas ekonomi untuk membandingkan struktur produktif sejumlah negara, termasuk Qatar, Singapura, India, dan Liberia.
Qatar, misalnya, memiliki pendapatan per kapita tinggi yang didukung kekayaan sumber daya alam, tetapi struktur industrinya dinilai belum terdiversifikasi secara teknologi. Sementara itu, Singapura memiliki kapabilitas yang lebih kompleks di sektor elektronik lanjutan, kimia, dan farmasi.
India menjadi contoh lain karena memiliki pendapatan per kapita relatif rendah, tetapi struktur produksinya mencakup beragam sektor, seperti otomotif, kimia, perangkat medis, dan farmasi.
Perbandingan tersebut menegaskan bahwa besarnya pendapatan suatu negara tidak selalu mencerminkan tingkat kompleksitas teknologi yang dikuasainya.
Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memperluas kemampuan industri agar tidak hanya bertumpu pada produk berbasis sumber daya alam. Penguatan kapabilitas lokal, transfer teknologi, serta penguasaan komponen dan barang modal menjadi bagian dari upaya membangun struktur ekonomi yang lebih kompleks.
Hidalgo menilai kompleksitas ekonomi dapat membantu membaca prospek pertumbuhan jangka panjang, melampaui perubahan harga komoditas dan siklus geopolitik. Ia juga menyebut kompleksitas ekonomi memiliki keterkaitan dengan efisiensi emisi per unit produk domestik bruto (PDB).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Istihanah
Tag Terkait: