Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Fenomena Downgrade Lifestyle Meluas, Bisa Picu PHK Berantai

Fenomena Downgrade Lifestyle Meluas, Bisa Picu PHK Berantai Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

IPB University menilai fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup di kalangan kelas menengah berpotensi menekan konsumsi rumah tangga dan memicu efek domino terhadap perekonomian. Masyarakat mulai beralih ke produk yang lebih murah serta menunda kebutuhan tidak mendesak di tengah tekanan pendapatan dan meningkatnya biaya hidup.

Pakar Perilaku Konsumen IPB University Megawati Simanjuntak mengatakan keterbatasan ekonomi menjadi salah satu pemicu perubahan pola konsumsi tersebut. Pendapatan yang tidak bertambah, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, serta kewajiban membayar cicilan membuat ruang keuangan keluarga semakin terbatas.

Kekhawatiran terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) dan sulitnya memperoleh pekerjaan juga mendorong masyarakat menahan belanja serta memperkuat cadangan keuangan.

“Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).

Menurut Megawati, fenomena ini menarik karena mulai banyak dilakukan kelompok kelas menengah yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi. Perubahan pola konsumsi tersebut bahkan mulai terbuka diperlihatkan melalui media sosial.

“Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” ujarnya.

Megawati mengingatkan perubahan pola konsumsi kelas menengah dapat berdampak terhadap sejumlah sektor usaha, mulai dari restoran, kafe, pusat perbelanjaan, fesyen, pariwisata, hiburan, otomotif, hingga properti. Pengurangan pengeluaran rumah tangga berpotensi menekan pendapatan pelaku usaha di sektor-sektor tersebut.

Jika pendapatan usaha melemah, pekerja berisiko terdampak melalui penurunan pendapatan hingga kehilangan pekerjaan. Kondisi itu kemudian dapat mendorong rumah tangga kembali mengurangi konsumsi sehingga tekanan terhadap aktivitas ekonomi semakin besar.

“Kondisi ini berisiko membentuk lingkaran yang saling memperlemah. Penurunan belanja dapat menekan pendapatan pekerja di sektor terkait. Ketika pendapatan mereka ikut menurun, pengeluaran rumah tangga kembali dikurangi sehingga konsumsi semakin melemah,” kata dia.

Di sisi lain, peralihan konsumsi ke produk yang lebih terjangkau dapat membuka peluang bagi usaha lokal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Penghematan juga berpotensi membantu keluarga memperkuat tabungan dalam jangka pendek.

Baca Juga: Apindo Bongkar Biang Daya Beli Melemah: Kelas Menengah Makin Tertekan

Baca Juga: Pemerintah Akui 11 Juta Warga Turun dari Kelas Menengah, Prabowo Siapkan Langkah Ini

Namun, Megawati menilai penghematan yang berlangsung lama akibat keterbatasan ekonomi dapat menggerus peran konsumsi kelas menengah sebagai salah satu penopang perekonomian.

“Jadi, ini bukan soal kelas menengah tidak mau belanja, tetapi soal kemampuan dan rasa aman. Kalau kita ingin konsumsi mereka pulih, kuncinya ada pada pemulihan daya beli dan kepercayaan terhadap kondisi ke depan, bukan sekadar mengajak mereka belanja lagi,” ujarnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri