Dorong Penggunaan AI yang Aman di Sekolah, Microsoft Elevate for Educators Bekali Para Guru dan Pegiat Pendidikan
Kredit Foto: Istimewa
Microsoft bersama Biji-biji Initiative meluncurkan Microsoft Elevate for Educators untuk memperkuat kemampuan guru dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara aman, etis, dan bertanggung jawab di lingkungan pendidikan.
Program ini hadir di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam pembelajaran. Guru dan sekolah dituntut memahami pemanfaatan teknologi tersebut tanpa mengabaikan kemampuan berpikir kritis, keamanan digital, dan perlindungan siswa.
Director Microsoft Elevate Capacity Building Solution ASEAN, Supahrat Juramongkol, mengatakan pemanfaatan AI dalam pendidikan perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas pendidik.
Menurutnya, peran guru tetap penting untuk memastikan AI digunakan secara bijak, melindungi siswa, serta menjaga kemampuan berpikir kritis dalam proses pembelajaran.
Melalui program ini, Microsoft memperkenalkan tiga sumber belajar untuk membantu guru membangun literasi AI dan keamanan digital di sekolah.
Pertama, AI Classroom Toolkit: Unlocking Generative AI Safely and Responsibly, yang ditujukan bagi pendidik dengan siswa berusia 13-15 tahun. Materinya meliputi teknik menyusun instruksi atau prompt, mengenali informasi keliru yang dihasilkan AI, memeriksa fakta, menjaga privasi, dan memahami bias informasi.
Kedua, Sumber Daya Literasi AI dan Media Baru, yang mendorong siswa memverifikasi informasi, mengikuti kuis interaktif, serta membandingkan dan mengevaluasi hasil AI. Pendekatan ini ditujukan agar siswa tidak sekadar menerima informasi secara pasif.
Ketiga, Behind the Chat: A Human Guide to Safe AI Conversations. Materi ini membantu pendidik memahami penggunaan AI sebagai pendamping, termasuk risiko keterikatan emosional, ketergantungan berlebihan, serta persoalan privasi dan pembagian informasi pribadi.
Director Public Policy, Digital Safety Microsoft, Madeline Shepherd, menilai literasi digital menjadi fondasi penting dalam penggunaan AI yang bertanggung jawab.
Ia mengatakan siswa perlu memiliki kemampuan untuk menilai informasi secara kritis, mengenali konten yang direkayasa, memeriksa fakta, dan memahami risiko ketergantungan terhadap AI.
Peluncuran program ini melibatkan sekitar 100 guru, tenaga kependidikan, dan pegiat pendidikan yang diundang secara terbuka, termasuk dari komunitas mitra program.
Para peserta mengikuti diskusi dan lokakarya mengenai pemanfaatan AI dalam pembelajaran. Topik yang dibahas mencakup pemeriksaan akurasi informasi, risiko privasi, serta penerapan AI yang aman dan bertanggung jawab di ruang kelas.
Group CEO Biji-biji Initiative dan Mereka, Rashvin Pal Singh, mengatakan penguatan kompetensi AI tidak cukup dilakukan dengan memperkenalkan teknologi baru. Menurutnya, pendidik juga perlu membangun komunitas untuk berbagi pengalaman dan praktik baik.
Acara tersebut turut menghadirkan diskusi panel yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), UNICEF Indonesia, Microsoft, serta pimpinan sekolah. Diskusi membahas pengalaman guru dan siswa menggunakan AI, kesenjangan keterampilan, serta upaya menyeimbangkan inovasi teknologi dengan keselamatan dan kesejahteraan siswa.
Perwakilan Direktorat Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kemkomdigi, Okky Robiana Sulaeman, menekankan pentingnya pemahaman tentang keamanan digital, perlindungan data pribadi, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Ia juga menilai kolaborasi pemerintah, industri, dan mitra pendidikan diperlukan untuk membangun lingkungan belajar yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus melindungi peserta didik.
Melalui Microsoft Elevate for Educators, Microsoft dan para mitranya berharap literasi AI dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran. Program ini menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis, keamanan digital, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat