Kredit Foto: Mayora
PT Mayora Indah Tbk (MYOR), produsen makanan dan minuman yang dikenal lewat merek Kopiko, berhasil membukukan pertumbuhan laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan penjualannya sepanjang Januari–September 2026. Strategi menekan biaya produksi dan turunnya beban keuangan menjadi sejumlah faktor yang menopang kinerja perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan interim yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), MYOR mencatat laba bersih sebesar Rp2,43 triliun hingga akhir September 2026. Angka ini melonjak 31,24% dibandingkan Rp1,85 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Di sisi lain, penjualan bersih perseroan hanya tumbuh 3,59% menjadi Rp28,13 triliun, dari sebelumnya Rp27,16 triliun. Artinya, pertumbuhan keuntungan Mayora jauh lebih kencang dibandingkan pertumbuhan pendapatannya.
Salah satu pendorong utamanya berasal dari keberhasilan perusahaan memangkas beban pokok penjualan menjadi Rp21,07 triliun, dari Rp21,39 triliun pada tahun sebelumnya. Efisiensi tersebut mengerek laba bruto menjadi Rp7,06 triliun, naik 22,53% dibandingkan Rp5,76 triliun.
Kinerja laba juga terbantu oleh keuntungan selisih kurs mata uang asing yang meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp371,12 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, keuntungan dari pos tersebut tercatat Rp176,62 miliar.
Tak hanya itu, beban bunga dan keuangan MYOR turun menjadi Rp288,19 miliar dari Rp442,22 miliar. Penurunan ini turut memberikan ruang bagi perusahaan untuk mencetak keuntungan lebih besar.
Namun, bukan berarti seluruh biaya berhasil ditekan. Beban penjualan justru naik menjadi Rp3,34 triliun dari Rp2,72 triliun. Beban umum dan administrasi juga meningkat menjadi Rp857,31 miliar, dibandingkan Rp659,86 miliar pada periode sebelumnya.
Meski dibayangi kenaikan biaya operasional, laba sebelum pajak MYOR tetap melesat menjadi Rp3,10 triliun, dari Rp2,36 triliun. Laba per saham dasar pun meningkat menjadi Rp109, dibandingkan Rp83 pada sembilan bulan pertama 2025.
Dari sisi keuangan, total liabilitas Mayora turun cukup tajam menjadi Rp10,01 triliun per 30 September 2026, dari Rp13,02 triliun pada akhir Desember 2025. Penurunan ini antara lain terlihat dari utang bank jangka pendek yang menyusut menjadi Rp235 miliar, dari sebelumnya Rp1,74 triliun.
Baca Juga: Laba Emiten Aguan (ERAA) Melonjak 38%, Tembus Rp1,09 Triliun!
Baca Juga: Indosat Kantongi Laba Bersih Rp4,92 triliun hingga kuartal III/2026
Baca Juga: Astra Raup Laba Rp21,6 Triliun per September 2026
Sementara itu, total aset perseroan tercatat Rp29,18 triliun, turun dari Rp31,38 triliun pada akhir 2025. Sebaliknya, ekuitas meningkat menjadi Rp19,17 triliun dari Rp18,36 triliun.
Posisi kas dan setara kas MYOR tercatat Rp4,26 triliun per akhir September 2026, lebih rendah dibandingkan Rp5,85 triliun pada akhir tahun lalu. Persediaan juga menyusut menjadi Rp5,41 triliun dari Rp6,02 triliun.
Terkait persediaan, manajemen menyatakan tidak terdapat cadangan penurunan nilai maupun persediaan usang, baik per 30 September 2026 maupun 31 Desember 2025.
“Manajemen berpendapat bahwa tidak terdapat cadangan penurunan nilai dan persediaan usang pada tanggal 30 September 2026 dan 31 Desember 2025,” tulis manajemen dalam catatan laporan keuangan perseroan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: