Sayuran dan Buah Saja Beli dari Luar Negeri, Professor NTU: Singapura Jauh Lebih Butuh Indonesia
Kredit Foto: Istock photo
Ketegangan Indonesia dan Singapura yang belakangan dipicu oleh persoalan pasokan gas bumi hingga kabut asap (karhutla) memunculkan kembali perdebatan mengenai posisi tawar (bargaining power) kedua negara. Dalam hal ini, tanah air disebut menang dari Singapura.
Professor of Science, Technology, and Society Sociology Programme dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir menyebut meskipun kedua negara bertetangga ini dibangun di atas asas kepentingan yang saling membutuhkan, neraca ketergantungan tersebut sesungguhnya tidak seimbang.
Baca Juga: Ulama Terawang Nasib Politik Wapres Gibran: Ini Enggak Lama Lagi, Insya Allah Paling 2 Bulan Lah
Menurutnya, Singapura yang tak memiliki sumber daya alam yang esensial membuat kelangsungan hidup negara kota tersebut sangat bergantung pada suplai dari negara-negara di sekitarnya, terutama Indonesia.
“Saya bisa mengatakan sebenarnya Singapura lebih butuh Indonesia daripada Indonesia butuh Singapura,” ujar Sulfikar dikutip Kamis (29/10/2026).
Ketergantungan absolut ini paling nyata terlihat pada sektor ketahanan pangan. Sulfikar membeberkan bahwa sekitar 90 persen kebutuhan logistik dasar harian warga negara itu, mulai dari pasokan ikan, sayur-mayur, beras, hingga buah-buahan harus didatangkan dari luar negeri. Tanpa adanya aliran ekspor pangan dan bahan mentah dari negara tetangga, fondasi ekonomi dan sosial akan langsung goyah di Singapura.
Kondisi geografis dan demografis yang serba terbatas inilah yang memaksa negara tersebut merancang doktrin pertahanan dan diplomasi yang sangat pragmatis.
“Mereka tahu mereka kecil, mereka sadar tidak punya sumber daya alam. Satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan satu strategi yang sederhana, don't make enemies (jangan membuat musuh),” jelas akademisi NTU.
Hubungan Indonesia dan Singapura sendiri tengah memanas. Rentetan peristiwa antara pemangkasan ekspor gas dan kritik tajam soal kabut asap diyakini menjadi penyebab ketegangan kedua negara terjadi di Asia Tenggara.
Diplomat Senior Singapura, Bilahari Kausikan baru-baru ini terang-terangan menyebut manuver pemangkasan ekspor gas ke negaranya sebagai bentuk intimidasi dari Indonesia.
Sementara Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.
Baca Juga: Massa Paksa Jokowi Pilih 2 Opsi: Bujuk Gibran untuk Mundur atau Dibuat Malu se-Indonesia
“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar