Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Eks Sekretaris Kementerian BUMN: Jika Indonesia Stop Beli Minyak Singapura, Kilang Mereka Bangkrut

Eks Sekretaris Kementerian BUMN: Jika Indonesia Stop Beli Minyak Singapura, Kilang Mereka Bangkrut Kredit Foto: Istock photo
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Muhammad Said Didu angkat bicara membedah postur hubungan ekonomi antara Indonesia dan Singapura.  Ia secara frontal menyerang kelompok maupun individu yang kerap membangun narasi bahwa negara ini sangat bergantung, terutama di Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Singapura.

Said Didu melihat realitas yang sebaliknya: fondasi ekonomi negara tersebut yang akan runtuh tanpa pasar dari Indonesia. Menurutnya, Indonesia tak akan mengalami krisis energi jika berkonfrontasi.

Baca Juga: Media Malaysia Kaget Indonesia Akan Buat Jemaah Umrah Tak Lagi Transit di Kuala Lumpur dan Singapura

Ia membeberkan fakta bahwa infrastruktur kilang raksasa yang dibangun negara tersebut sejak awal tidak didesain untuk memenuhi kebutuhan domestik mereka yang sangat kecil, melainkan sengaja dipersiapkan untuk menyuplai pasar raksasa dari Indonesia.

"Karena Singapura membangun kilang itu bukan untuk konsumsi di mereka, tapi konsumsi di Indonesia. Jadi apabila kita menutup atau mengurangi pembelian bensin hingga minyak dari mereka, maka kilang mereka yang bangkrut, bukan kita yang susah," tegas Said Didu dikutip Sabtu (31/10/2026).

Pernyataan tajam ini menjadi peringatan strategis bagi pemerintah agar tidak mudah ditekan dalam perundingan bilateral dengan Singapura.

Bagi Said Didu, sudah saatnya pemerintah menggunakan posisi tawarnya yang absolut sebagai captive market untuk mendikte arah kebijakan, bukan terus-menerus disetir oleh kepentingan industri kilang dari Singapura.

Adapun Indonesia dan Singapura sendiri diketahui tengah memanas. Rentetan peristiwa antara pemangkasan ekspor gas dan kritik tajam soal kabut asap diyakini menjadi penyebab ketegangan kedua negara terjadi di Asia Tenggara.

Hal ini sendiri diawali oleh Menko Hilirisasi dan Investasi, Bahlil Lahadalia. Ia sebelumnya menyatakan akan mengevaluasi ekspor gas secara selektif. Kebijakan ini ditujukan kepada negara-negara yang dinilai tidak memberikan rasa hormat terhadap kedaulatan dari Indonesia.

“Saya akan melakukan evaluasi. Saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia,” kata Bahlil.

Namun Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan menegaskan bahwa pihaknya tak ingin bermuuhan dengan Indonesia. Ia kembali komitmen negaranya untuk menjaga hubungan bilateral dengan Jakarta.

Baca Juga: Dibuat Pusing Denny Indrayana Cs, Gibran: Saya Tidak Marah ke Siapa Pun, Hanya Tolong...

"Menurut saya, hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa sebagai negara-negara tetangga terdekat kami, akan selalu saling bergantung satu sama lain," tutur Vivian.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar