Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Geger Indonesia Dikejutkan Ulah Pria Madura Ngaku Imam Mahdi, Peras Pengikut Hingga Rp1,3 Miliar

        Geger Indonesia Dikejutkan Ulah Pria Madura Ngaku Imam Mahdi, Peras Pengikut Hingga Rp1,3 Miliar Kredit Foto: Pexels/Rizky Sabriansyah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Publik Tanah Air kembali digegerkan oleh kemunculan sebuah aliran yang menyimpang dari ajaran agama. Di Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur seorang pria nekat mengklaim dirinya sebagai Imam Mahdi. Klaim teologis palsu ini berujung pada dugaan tindak pidana penipuan dan pemerasan, di mana pelaku berhasil mengeksploitasi kepatuhan buta para pengikutnya hingga menelan kerugian finansial yang fantastis, mencapai Rp1,3 miliar.

        Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Cholil Nafis memastikan bahwa klaim dan praktik pengajian yang dijalankan pria tersebut adalah murni sebuah kesesatan. Kiai Cholil membedah setidaknya ada tiga kesesatan fatal yang dilakukan oleh pelaku dalam memanipulasi jamaahnya.

        Baca Juga: Geger Sederet Taipan dan Pengusaha Indonesia Dipanggil Langsung Singapura

        Kiai Cholil menjelaskan sesuai dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Kedatangan Imam Mahdi ditegaskannya memang diyakini akan terjadi di akhir zaman menjelang turunnya Nabi Isa. Namun, figur suci tersebut memiliki karakteristik dan garis keturunan yang jelas, yakni berasal dari keturunan dari Putri Nabi Muhammad SAW, Siti Fatimah.

        "Memang Imam Mahdi itu dalam keyakinan Islam akan datang pada akhir zaman. Tapi ketika dia mengaku sebagai Imam Mahdi, itu sudah jelas merupakan kesalahan dan kesesatan," tegas Kiai Cholil dikutip Kamis (29/10/2026).

        Penyimpangan kedua yang dinilai sangat merusak tauhid adalah klaim bahwa pelaku seolah-olah berkuasa atas umur dan iman seseorang. Berdasarkan kesaksian para korban, pria terkait kerap menebar teror psikologis berupa ancaman pencabutan nyawa atau pencabutan iman dalam kurun waktu tertentu bagi pengikut yang menolak menyetorkan uang.

        "Wong dirinya sendiri tidak tahu pada takdirnya sendiri, bagaimana bisa tahu pada takdir orang lain? Kalau tahu, saya pikir nggak bakalan dia nipu dan akhirnya dilaporkan ke polisi," ujarnya.

        Kesesatan ketiga bermuara pada pengerukan materi secara zalim. Pelaku menggunakan kedok agama, seperti dalih penebusan dosa, jaminan umur panjang, hingga keselamatan keluarga, untuk memaksa korban menyetor uang secara bertahap. Kultus individu yang berlebihan ini dimanfaatkan secara sistematis hingga meraup pundi-pundi miliaran rupiah.

        Terkait fenomena mengapa para jamaah bisa terhegemoni dan patuh tanpa nalar kritis, ulama menjelaskan bahwa hal ini tidak lepas dari sosiologi kultur masyarakat agraris dan perdesaan di Madura.

        Nahasnya, Pria Madura yang mengaku imah mahdi ini hanyalah ahli waris dari sebuah majelis pengajian yang dulunya dirintis dengan niat baik oleh orang tua dan kakaknya. Ketika estafet kepemimpinan jatuh ke tangannya yang miskin ilmu dan tidak memiliki sanad agama yang lurus, majelis tersebut dibelokkan menjadi arena indoktrinasi sesat.

        Baca Juga: Peringatan Profesor NTU: Jangan Remehkan Singapura, Tak Punya Sumur Minyak Tapi Eksportir Terbesar

        "Dulu para kiai adalah orang alim yang memberi ajaran-ajaran yang baik. Tapi itu dimanfaatkan oleh orang yang tidak alim dengan cara menghegemoni masyarakat seakan-akan dia kiai," ungkap Kiai Cholil.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: