Kredit Foto: PTFI
PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat laba operasi segmen Indonesia sebesar US$616 juta pada kuartal III-2026, turun 51,9% dibandingkan dengan US$1,282 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan kinerja tersebut terjadi di tengah pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave yang belum kembali beroperasi pada kapasitas normal setelah insiden mud rush pada September 2025.
Mengutip laporan kinerja kuartal III-2026 Freeport-McMoRan Inc. (FCX) yang dirilis pada 27 Oktober 2026, penurunan laba operasi PTFI berlangsung meskipun harga jual rata-rata tembaga dan emas meningkat secara tahunan. Volume penjualan kedua komoditas justru menyusut seiring tingkat operasi tambang yang masih terbatas.
Penjualan tembaga PTFI tercatat sebesar 153 juta pon pada kuartal III-2026, turun 57,5% dibandingkan dengan 360 juta pon pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, penjualan emas merosot 70,5% secara tahunan menjadi 98.000 ons dari sebelumnya 332.000 ons.
Di sisi lain, harga jual rata-rata tembaga meningkat menjadi US$6,48 per pon dari US$4,52 per pon pada kuartal III-2025. Harga jual rata-rata emas juga naik menjadi US$4.271 per ons dari US$3.535 per ons.
Terbatasnya volume penjualan tersebut berkaitan dengan proses peningkatan kapasitas tambang Grasberg Block Cave yang masih berlangsung. Selain itu, penjualan emas pada kuartal III-2026 terdampak penundaan realisasi penjualan sekitar 60.000 ons emas murni ke kuartal IV-2026.
“Volume penjualan emas pada kuartal ketiga tahun 2026 juga dipengaruhi oleh penundaan penjualan sekitar 60 ribu ons emas murni dari kuartal III/2026 ke kuartal IV/2026,” tulis FCX dalam laporan kinerja kuartal III-2026.
Beban pemulihan fasilitas turut memengaruhi kinerja operasi PTFI. FCX mencatat biaya fasilitas menganggur, pemulihan langsung, dan restorasi mencapai US$244 juta pada kuartal III-2026, meningkat dibandingkan dengan US$171 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Biaya tersebut diakui sebagai beban selama proses pemulihan operasi berlangsung dan tidak dimasukkan dalam perhitungan biaya kas bersih per unit tembaga yang dilaporkan perusahaan.
Baca Juga: Free Float MSIG Life Baru 7,5%, Bagaimana Mengejar Target 15%?
Baca Juga: Smelter Freeport Resmi Beroperasi Kembali, Apa Dampaknya Bagi Hilirisasi?
Dari sisi operasional, kapasitas pengolahan bijih di fasilitas penggilingan Grasberg rata-rata mencapai sekitar 141.000 ton per hari pada kuartal III-2026, setara dengan sekitar 67% dari kapasitas normal. Dari jumlah tersebut, sekitar 70.000 ton bijih per hari berasal dari tambang bawah tanah Grasberg Block Cave.
FCX menargetkan tingkat operasi mencapai 80% dari kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: