Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bahlil Sebut Pabrik Baterai CATL-Antam Segera Diresmikan Presiden

        Bahlil Sebut Pabrik Baterai CATL-Antam Segera Diresmikan Presiden Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan Presiden Prabowo Subianto akan meresmikan pabrik baterai kendaraan listrik hasil kerja sama CATL, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dalam waktu dekat. 

        Pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, itu telah mulai berproduksi setelah 1 tahun peletakan batu pertama yang dilakukan di 2025.

        “Di samping itu juga saya melaporkan kepada Bapak Presiden bahwa kesiapan peresmian pabrik baterai kerja sama CATL dengan Antam yang 1 tahun lalu di-groundbreaking oleh Bapak Presiden,” ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

        Pabrik sel baterai tersebut dikelola PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB), perusahaan yang kepemilikannya melibatkan konsorsium Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL), afiliasi CATL, dan IBC. Berdasarkan laporan perusahaan, CBL memegang 70% saham CATIB, sedangkan IBC memiliki 30%. 

        Fasilitas di Karawang itu memiliki kapasitas produksi awal 6,9 gigawatt-jam (GWh) per tahun. Kapasitas tersebut direncanakan meningkat menjadi 15 GWh dalam pengembangan berikutnya. Kementerian ESDM sebelumnya menyebut nilai investasi proyek sel baterai ini mencapai sekitar US$1,2 miliar. 

        “Dalam waktu dekat akan diresmikan karena pabriknya udah mulai produksi,” kata Bahlil.

        Pabrik di Karawang merupakan bagian dari proyek ekosistem baterai terintegrasi dengan total rencana investasi hampir US$5,9 miliar atau sekitar Rp96 triliun berdasarkan pengumuman pemerintah pada Juni 2025. Proyek tersebut dibangun di dua wilayah, yakni Karawang untuk produksi sel baterai dan Halmahera Timur, Maluku Utara, untuk pertambangan nikel, pengolahan mineral, material baterai, serta daur ulang. 

        Di Halmahera Timur, proyek itu mencakup lima fasilitas utama. Pertama, tambang nikel dengan investasi US$500 juta dan kapasitas 10 juta ton per tahun. Kedua, fasilitas rotary kiln electric furnace (RKEF) senilai US$1,4 miliar dengan kapasitas 88.000 ton feronikel per tahun.

        Ketiga, fasilitas high-pressure acid leach (HPAL) senilai US$1,9 miliar dengan kapasitas 55.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun. Keempat, fasilitas material baterai senilai US$700 juta yang dirancang memproduksi 16.000 ton nikel sulfat, 30.000 ton prekursor, dan 30.000 ton material aktif katoda per tahun. Kelima, fasilitas daur ulang baterai senilai US$200 juta dengan kapasitas 20.000 ton per tahun. 

        Dari sisi kepemilikan, pengembangan kawasan industri Feni Haltim di Halmahera Timur melibatkan Antam dan Hong Kong CBL Limited, anak usaha CBL. Dalam PT Feni Haltim, Antam memegang 40% saham dan Hong Kong CBL Limited memiliki 60%. Sementara itu, pada perusahaan tambang nikel PT Sumberdaya Arindo, Antam memegang 51% saham dan afiliasi CBL memiliki 49%. 

        Bahlil mengatakan peresmian pabrik CATL–Antam akan menambah jumlah pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia menjadi tiga.

        “Dengan demikian, maka sudah ada tiga pabrik baterai ee mobil kita yang ada di Indonesia,” ujarnya.

        Dua fasilitas lainnya adalah pabrik baterai Hyundai dan LG Energy Solution di Karawang serta pabrik baterai milik investor China di Halmahera. Pabrik Hyundai dikembangkan melalui perusahaan patungan PT HLI Green Power dengan investasi awal sekitar US$1,1 miliar dan kapasitas produksi 10 GWh per tahun. Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution masing-masing memiliki 50% saham dalam perusahaan tersebut. 

        Baca Juga: Bahlil Sebut Presiden Sempat Bahas Soal Pertemuan dengan Menlu Singapura di Ratas

        Baca Juga: SKK Migas Sebut 30 Juta Barel Minyak UEA Tanpa Biaya Modal Kerja, Ini Kata Bahlil

        Sementara itu, fasilitas baterai di Halmahera yang diresmikan secara komersial pada Oktober 2026 adalah PT REPT Battero Indonesia. Perusahaan tersebut memiliki kapasitas produksi sel baterai sebesar 8 GWh per tahun. Fasilitas ini merupakan bagian dari pengembangan industri baterai di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), berbeda dari proyek terintegrasi CATL–Antam–IBC di Halmahera Timur.

        Bahlil menilai pengembangan berbagai fasilitas tersebut memperkuat integrasi industri baterai kendaraan listrik di Indonesia, mulai dari pertambangan dan pengolahan nikel hingga produksi sel baterai.

        “Nah, ini artinya apa? Ekosistem baterai mobil kita ini betul-betul sudah terintegrasi antara mining, smelter, HPAL, prekursor, katoda, sampai battery cell. Mungkin tidak banyak negara yang memiliki ini. Nah, ini bagian daripada ikhtiar untuk melakukan hilirisasi, ya,” tutup Bahlil.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: