- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Pasokan Air Jadi Tantangan Baru Operasional Tambang Freeport di Grasberg
Kredit Foto: PTFI
PT Freeport Indonesia (PTFI) menghadapi tantangan ketersediaan air untuk mendukung kegiatan operasional tambang Grasberg di Papua Tengah. Kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya memang menguntungkan aktivitas penambangan, tetapi berpotensi mengganggu proses pengolahan bijih mineral.
Dalam laporan kinerja kuartal III 2026 yang dirilis induk usahanya, Freeport-McMoRan (FCX), pada 27 Oktober 2026, manajemen mengungkapkan bahwa ketersediaan air untuk kegiatan operasional dan infrastruktur tambang sedang dikelola secara aktif. Sejauh ini, dampaknya terhadap produksi masih terbatas.
"Di Indonesia, kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya secara umum menguntungkan kegiatan penambangan, tetapi menimbulkan berbagai tantangan dalam proses pengolahan bijih. Ketersediaan air untuk kegiatan operasional dan infrastruktur lokasi tambang sedang dikelola secara aktif, dengan dampak terhadap produksi yang sejauh ini masih terbatas," tulis manajemen dalam laporan tersebut.
Meski dampaknya terhadap produksi belum signifikan, FCX memperingatkan bahwa periode tanpa curah hujan yang berkepanjangan dapat memengaruhi tingkat pengolahan bijih pada masa mendatang.
"Periode tanpa curah hujan yang berkepanjangan dapat memengaruhi tingkat pengolahan bijih pada masa mendatang. Upaya mitigasi akan terus dilaksanakan selama periode tersebut," tulis manajemen.
Tantangan ini berkaitan dengan proses pengolahan bijih (milling), yakni tahapan penggilingan dan pemrosesan material hasil tambang sebelum menghasilkan konsentrat mineral. Ketersediaan air menjadi salah satu faktor pendukung dalam proses tersebut.
Bagi PTFI, kelancaran proses pengolahan menjadi penting di tengah upaya perusahaan memulihkan kapasitas tambang bawah tanah Grasberg Block Cave setelah insiden external mud rush pada September 2025.
Pada kuartal III 2026, rata-rata pengolahan bijih PTFI mencapai 141.000 ton per hari atau sekitar 67% dari kapasitas normal. Dari jumlah tersebut, sekitar 70.000 ton bijih per hari berasal dari Grasberg Block Cave.
FCX menargetkan tingkat operasi PTFI mencapai 80% dari kapasitas normal pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027. Namun, target tersebut juga perlu memperhitungkan berbagai faktor operasional, termasuk kondisi cuaca dan ketersediaan sumber daya pendukung kegiatan pengolahan.
Baca Juga: Freeport Persoalkan Bea Keluar Emas 10%, Singgung Ketentuan IUPK
Baca Juga: Bukan Soal Indeks atau Free Float, MSCI Soroti Bad Actors di Pasar Saham RI
Dalam pengungkapan faktor risiko perusahaan, FCX juga memasukkan risiko lingkungan, termasuk ketersediaan pasokan air yang aman (availability of secure water supplies), sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kegiatan usaha.
Dengan demikian, ketersediaan air tidak hanya menjadi persoalan pendukung operasional, tetapi juga bagian dari risiko keberlanjutan kegiatan pertambangan Grasberg. Kondisi cuaca yang lebih kering dan kemungkinan periode tanpa hujan berkepanjangan menjadi faktor yang terus diperhatikan perusahaan dalam menjaga tingkat pengolahan bijih.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: