Kredit Foto: AMMAN
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat penurunan kandungan emas dalam cadangan bijih tambang Batu Hijau sebesar 6,7%. Penurunan tersebut terjadi meskipun total cadangan bijih tambang tersebut justru meningkat 10,2%.
Dalam pembaruan laporan cadangan dan sumber daya mineral berdasarkan standar Joint Ore Reserves Committee (JORC) per 30 Juni 2026, AMMN mencatat cadangan bijih Batu Hijau mencapai 777 juta ton. Dari jumlah tersebut, kandungan emas tercatat sebesar 5,90 juta ons dengan kadar rata-rata 0,24 gram per ton.
Sementara itu, kandungan tembaga dalam cadangan bijih Batu Hijau justru meningkat 2,6%. Perusahaan juga mencatat kenaikan cadangan bijih tersebut meskipun tambang telah berproduksi selama 18 bulan.
"Cadangan bijih Batu Hijau meningkat 10,2%, meskipun telah berproduksi selama 18 bulan; kandungan tembaga meningkat 2,6%, sementara kandungan emas menurun 6,7%," tulis manajemen dalam laporan kuartal III yang dirilis di keterbukaan informasi.
Pembaruan cadangan tersebut juga menggunakan asumsi harga emas yang lebih tinggi dibandingkan perhitungan sebelumnya. AMMN menaikkan asumsi harga emas menjadi US$2.500 per ons dari sebelumnya US$1.800 per ons. Sementara itu, asumsi harga tembaga tetap dipertahankan sebesar US$4 per pon.
"Pembaruan cadangan tersebut mencerminkan asumsi harga emas yang lebih tinggi, yaitu sebesar US$2.500 per ons (dari US$1.800 per ons), sementara asumsi harga tembaga tetap konservatif sebesar US$4,00 per pon," tulis manajemen dalam laporan.
Di sisi lain, AMMN juga mencatat perkembangan cadangan bijih pada proyek Elang. Cadangan bijih tambang tersebut meningkat sekitar 2% dari sisi tonase maupun kandungan tembaga dan emas.
Baca Juga: Komisaris Diciduk Kejagung atas Korupsi Rp401 Miliar, Ini Respons Amman
Berdasarkan laporan perusahaan, cadangan bijih Elang mencapai 2,58 miliar ton dengan kandungan tembaga sebesar 18,17 miliar pon dan emas sebanyak 27 juta ons.
Perencanaan tambang Elang saat ini masih berlangsung. AMMN menargetkan keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) pada 2027, sementara produksi bijih pertama diproyeksikan dimulai pada 2031/2032.
Adapun umur tambang Batu Hijau telah diperpanjang hingga 2031/2032. Setelah itu, pengolahan stockpile diperkirakan masih dapat berlanjut hingga 2033/2034 atau lebih.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: