China Jadi Raja Mobil Listrik, Ternyata Salah Satu Tokoh Kuncinya Lahir di Indonesia!
Kredit Foto: IG: Stella Christie
Indonesia berpeluang memperkuat industri kendaraan listrik dengan menggandeng salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan teknologi tersebut di Asia. Sosok itu adalah Prof. Ching Chuen Chan atau CC Chan, ilmuwan berusia 90 tahun yang lahir di Magelang, Jawa Tengah.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan pertemuannya dengan Prof. Chan pada 27 Oktober 2026. Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama untuk mengembangkan sumber daya manusia, riset, dan pendidikan vokasi guna mendukung industri kendaraan listrik di Indonesia.
Nama Prof. Chan dikenal luas dalam perkembangan teknologi kendaraan listrik, khususnya di China. Negara tersebut kini menjadi salah satu pemain utama industri kendaraan listrik dunia melalui produsen seperti BYD dan Wuling.
Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @prof.stellachristie pada 29 Oktober 2026, Stella memperkenalkan Prof. Chan sebagai salah satu tokoh penting di balik kemajuan industri kendaraan listrik China.
"Inilah Profesor Chan yang menemukan semua tentang electric vehicle dan yang menjadikan Tiongkok nomor satu di electric vehicle di dunia. Tapi yang istimewanya, Prof. Chan lahir di mana?" ujar Stella.
Prof. Chan kemudian menjawab singkat dalam bahasa Indonesia yang masih fasih.
"Saya lahir di Magelang," katanya.
Dijuluki sebagai Bapak Kendaraan Listrik Asia, Prof. Chan menyatakan ingin berkontribusi mempererat hubungan Indonesia dan China. Ia juga membuka peluang kerja sama untuk membantu Indonesia membangun ekosistem kendaraan listrik sendiri.
Ekosistem Kendaraan Listrik Butuh Dukungan Kebijakan
Dalam pertemuan dengan Kemendiktisaintek, Prof. Chan menekankan bahwa kemajuan industri tidak cukup hanya mengandalkan penemuan ilmiah. Hasil riset perlu dikembangkan menjadi rekayasa teknik, teknologi, hingga produk yang dapat digunakan masyarakat.
Menurut dia, pengembangan sains dan teknologi juga harus berjalan beriringan dengan manajemen serta kebijakan yang mendukung inovasi.
Baca Juga: Moeldoko Minta Keistimewaan Mobil Listrik Disetop Saat Pangsa Pasar Tembus 30%
Baca Juga: Mobil Listrik RI Tembus 541.000 Unit, Pemerintah Tagih Industri Lokal Naik Kelas
"We must have ecosystem. The ecosystem will include scientists, engineers, entrepreneurs, investors. But the top is you, the policy. Science without policy will die," tuturnya.
Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya membangun ekosistem yang menghubungkan ilmuwan, insinyur, pengusaha, investor, dan pemerintah. Tanpa dukungan kebijakan yang memadai, hasil penelitian berisiko tidak berkembang menjadi produk maupun
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: