Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Aluminium RI Mau Naik Kelas, Incar Bahan Pesawat hingga Baterai EV

Aluminium RI Mau Naik Kelas, Incar Bahan Pesawat hingga Baterai EV Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia tidak ingin hilirisasi bauksit berhenti pada produksi alumina dan aluminium. Industri aluminium nasional didorong naik kelas dengan mengembangkan produk turunan bernilai tambah lebih tinggi, mulai dari material otomotif dan konstruksi hingga bahan untuk industri pesawat terbang dan baterai.

Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero), Arif Haendra mengatakan aluminium yang dihasilkan dari proses hilirisasi bauksit masih merupakan produk antara yang dapat dikembangkan menjadi berbagai material dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Menurut dia, setelah alumina diolah menjadi aluminium, produk tersebut dapat dikembangkan menjadi alloy dan billet. Billet kemudian menjadi bahan baku proses ekstrusi untuk menghasilkan berbagai profil aluminium, termasuk kebutuhan konstruksi.

"Kalau sudah jadi billet, itu bahan baku ekstrusi. Ekstrusi itu untuk apa? Misalnya kita mau bikin profil untuk gedung bangunan, high-rise building. Itu semua dari billet," ujar Arif di Jakarta Selatan, Senin (26/10/2026).

Namun, proses tersebut baru merupakan salah satu tahapan dalam rantai hilirisasi aluminium. Industri masih memiliki peluang untuk masuk ke produk dengan spesifikasi material yang lebih tinggi.

Arif mengatakan pengembangan aluminium alloy dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri, termasuk otomotif. Inalum saat ini juga mengembangkan sejumlah seri aluminium alloy yang dapat digunakan untuk otomotif, bahan bangunan, hingga kebutuhan industri lainnya.

Rantai nilai tersebut dapat diperpanjang hingga kebutuhan industri pesawat terbang. Arif menyebut Inalum telah melakukan upaya pengembangan aluminium seri 2 dan seri 7 yang dapat digunakan sebagai material untuk industri pesawat.

"Kalau kita bisa masuk ke sana, kita naik lagi. Naik kelas lagi," katanya.

Menurut Arif, pengembangan material dengan spesifikasi lebih tinggi menjadi penting agar hilirisasi aluminium tidak hanya menghasilkan peningkatan volume produksi, tetapi juga memperbesar nilai tambah yang diperoleh Indonesia.

Peluang berikutnya datang dari perkembangan industri kendaraan listrik dan baterai. Arif mengatakan aluminium juga menjadi salah satu material yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik.

"Berikutnya, aluminium untuk material-material baterai ini. Material baterai itu juga agak tricky. Jadi di dalam baterai EV (mobil listrik itu masih mengandung aluminium," ujarnya.

Dengan demikian, pasar aluminium nasional tidak hanya bergantung pada sektor konstruksi. Perkembangan otomotif, kendaraan listrik, hingga industri berteknologi tinggi membuka peluang bagi produsen aluminium untuk menghasilkan material dengan spesifikasi yang semakin beragam.

Arif menilai pengembangan tersebut harus berjalan seiring dengan penguatan rantai hilirisasi bauksit di dalam negeri. Selama ini, bauksit Indonesia sempat diekspor untuk diproses menjadi alumina di luar negeri, sebelum kembali diimpor untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.

Kini, pengolahan bauksit menjadi alumina mulai dilakukan di dalam negeri. Salah satunya melalui fasilitas pengolahan alumina di Mempawah, Kalimantan Barat.

Menurut Arif, hilirisasi tidak seharusnya berhenti ketika bauksit berubah menjadi alumina atau aluminium. Produk tersebut perlu terus diproses menjadi material antara hingga produk manufaktur yang dibutuhkan industri.

"Aluminium itu masih produk di tengah," katanya.

Baca Juga: Inalum Soroti Tarif Listrik PLN, Smelter Aluminium Butuh Harga Kompetitif

Baca Juga: Mati Listrik 2 Jam Bisa Bikin Inalum Rugi Ratusan Ribu Dolar

Ia mencontohkan, aluminium dapat diproses menjadi billet, kemudian masuk ke proses ekstrusi atau dikembangkan menjadi berbagai jenis alloy sesuai kebutuhan industri. Semakin jauh proses tersebut dilakukan di dalam negeri, semakin panjang pula rantai nilai yang terbentuk.

Dengan pola tersebut, nilai tambah tidak hanya berasal dari kegiatan penambangan dan pemurnian, tetapi juga dari manufaktur, tenaga kerja, logistik, hingga aktivitas industri turunannya.

Tantangan berikutnya adalah kemampuan industri nasional untuk menghasilkan aluminium dengan spesifikasi yang dibutuhkan sektor-sektor strategis. Semakin tinggi spesifikasi produk, semakin besar pula kebutuhan terhadap teknologi, riset, standardisasi, dan kemampuan manufaktur.

Artinya, masa depan industri aluminium Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak bauksit yang dapat diolah, tetapi juga sejauh mana aluminium tersebut dapat masuk ke rantai pasok industri bernilai tambah tinggi.

Dari bahan bangunan dan otomotif hingga material pesawat dan baterai, Inalum melihat peluang untuk membawa aluminium nasional naik kelas dalam rantai industri global.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan