Wakil Ketua BEM UI: Pemerintah Hanya Fokus ke MBG, Janji-janji Lain Dianaktirikan
Kredit Foto: Istimewa
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai terlalu menonjolkan sejumlah program unggulan, terutama Makan Bergizi Gratis (MBG), sementara janji-janji lain yang disampaikan kepada masyarakat belum mendapat perhatian sepadan.
Kritik tersebut disampaikan Wakil Ketua BEM UI, Fathimah Azzahra, yang mengingatkan bahwa mandat seorang presiden tidak hanya sebatas menjalankan program MBG, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hingga Sekolah Rakyat.
Menurut Fathimah, komitmen seorang presiden kepada rakyat semestinya diukur dari pelaksanaan seluruh sumpah jabatan, termasuk memastikan masyarakat dapat menjalani kehidupan secara normal dan memperoleh hak-haknya.
Baca Juga: MBG Tak akan Bisa Dihapus: Itu ‘Mas Kawin’ Prabowo-Gibran
"Kita melihat sebetulnya ijab kabul yang dilakukan presiden kepada rakyatnya bukan hanya program apa yang dijanjikan, tapi dia menjalani sumpahnya sebagai presiden. Yang di antaranya bukan hanya tentang makan bergizi gratis gitu, (tapi) bagaimana masyarakat bisa hidup normal," katanya dalam program ROSI yang tayang di Kompas TV belum lama ini.
Ia kemudian menyoroti penanganan rehabilitasi pascabencana di sejumlah daerah yang dinilai belum berjalan maksimal.
"Sebelum karhutla ini, kita tahu ada bencana-bencana lain, seperti di Aceh, ketika ada banjir bandang sebelumnya, sudah banyak sekali hal-hal yang terjadi namun rehabilitasinya masih belum maksimal. Mereka belum hidup normal, air bersih masih sulit, dan sebagainya, sampai mereka akhirnya terpapar lagi hal-hal yang mengganggu hidup mereka," ungkap Fathimah.
Kondisi tersebut, menurutnya, memperlihatkan kesan bahwa pemerintah hanya memusatkan perhatian pada satu program, sementara janji dan tanggung jawab lainnya justru terpinggirkan.
"Pemerintah ini terkesan seperti hanya berfokus pada satu janji, yaitu makan bergizi gratis (MBG), tapi pada sumpah-sumpahnya yang lain, di mana dia diberi mandat untuk menjalani itu semua, seperti seolah-olah dianaktirikan gitu janji-janji yang lain," ujarnya.
Baca Juga: Negara Berencana Tanggung Iuran BPJS Kesehatan Desil 1-8, Mensos: Saya Yakin Presiden Setuju
Fathimah juga menilai ketimpangan perhatian terhadap program pemerintah dapat melukai perasaan masyarakat. Ia secara khusus menyinggung sektor pendidikan yang menurutnya masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, termasuk pemenuhan mandat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Seolah-olah janji pemerintah hanya MBG dan KDMP titik. Seolah-olah yang lain tidak. Di antaranya yang sekarang sedang diresahkan terkait pendidikan, bagaimana presiden itu juga harus bisa, sebagai orang yang menjalankan negara ini mencerdaskan kehidupan bangsa," sebut Fathimah.
Ia memberikan contoh kondisi sekolah di daerah yang disebutnya telah mendapatkan bantuan televisi layar sentuh atau touchscreen. Namun, bantuan perangkat tersebut dinilai tidak sebanding dengan kondisi bangunan sekolah yang masih rusak, bahkan tidak memiliki tembok yang layak.
"Kita melihat di sekolah-sekolah daerah ada TV-TV touchscreen tapi padahal tembok-temboknya nggak ada. Itu kan sangat miris," ucapnya.
Tak hanya infrastruktur pendidikan, Fathimah turut mempertanyakan realisasi janji mengenai kesejahteraan guru honorer. Ia menyayangkan isu tersebut kerap menjadi materi yang diangkat para calon presiden saat debat, tetapi kembali terlupakan setelah mereka terpilih.
"Kenapa setiap debat capres guru honorer selalu menjadi kata kunci orang-orang yang sedang nyapres, tapi setelah sudah terpilih guru honorer ini terlupakan lagi. Ini kan membuat masyarakat sakit hati, berkali-kali dijanjikan tapi tidak pernah direalisasi," tambah Fathimah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: