Kredit Foto: Istihanah
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah menyiapkan sejumlah proyek strategis untuk ditawarkan kepada investor Amerika Serikat (AS). Proyek-proyek potensial itu nantinya akan dipaparkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Miami, Amerika Serikat pada 14-15 Desember 2026 mendatang.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengutarakan, pihaknya diminta mempersiapkan daftar beberapa proyek yang bisa dikerjasamakan dengan investor global. Penjajakan tersebut rencananya turut melibatkan Milken Institute dan sejumlah investor besar.
"Kalau sama US karena memang ada pembicaraan kita nanti, misalnya di G20 Miami seperti apa, dan ada rencananya forumnya juga dengan Milken Institute, dengan beberapa investor besar juga," kata Rosan usai berjumpa dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Hanya saja, ia belum merinci daftar proyek yang bakal ditawarkan tersebut. Namun, Rosan menegaskan bahwa Danantara akan membidik program peningkatan dan optimalisasi aset milik badan usaha milik negara (BUMN).
"Nanti kita sedang list (daftar proyek yang akan ditawarkan), supaya kerjasamanya sesuai dengan program peningkatan atau optimalisasi dari aset BUMN," ujar dia.
Untuk diketahui, Amerika Serikat (AS) telah menjajaki peluang kerja sama komersial dengan Indonesia senilai lebih dari US$ 2 miliar atau sekitar Rp36 triliun. Kesepakatan tersebut mencakup sektor energi serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
Pembahasan kerja sama itu dilakukan oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ekonomi, Jacob Helberg, saat berkunjung ke Jakarta pada Jumat (30/10/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian lawatan regional yang juga mencakup Singapura dan Jepang.
Baca Juga: Bahlil Ogah Jual Murah Listrik RI, Danantara Diminta Tolak Lobi Penurunan Harga
Baca Juga: AS Siapkan Kerja Sama Rp36 Triliun dengan RI, Danantara Ikut Terlibat
Berdasarkan keterangan Kedutaan Besar AS di Jakarta, Helberg menggelar pertemuan dengan CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani serta Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.
Pertemuan tersebut membahas upaya mendorong kesepakatan komersial perusahaan-perusahaan AS di bidang energi dan TIK dengan nilai lebih dari US$ 2 miliar.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi, mendorong pertumbuhan industri, serta mengembangkan konektivitas tepercaya bagi kedua negara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Editor: Dian Ihsan