Kredit Foto: Istimewa
Ketahanan diri atau resilience menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan kinerja pekerja. Studi global Zurich dalam laporan The Resilient Workforce menemukan, 88 persen pekerja dengan tingkat resilience tinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok pekerja dengan tingkat resilience terendah, yakni 44 persen.
Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam perayaan 35 tahun Zurich Indonesia. Acara ini mempertemukan sejumlah pakar dari bidang penelitian, layanan kesehatan, dan teknologi kesehatan untuk membahas kesehatan serta ketangguhan tenaga kerja.
Studi yang dikembangkan Zurich bersama akademisi itu menunjukkan bahwa resilience berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital. Pengaruhnya terhadap kinerja pekerja juga tercatat lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan.
Professor Jan-Emmanuel De Neve dari Saïd Business School, University of Oxford, mengatakan kesejahteraan dan produktivitas pekerja merupakan dua hal yang saling berkaitan.
Menurut dia, dukungan terhadap kesehatan fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital dapat membantu pekerja menghadapi perubahan serta meningkatkan kontribusi mereka di tempat kerja.
Dalam acara yang sama, Zurich Indonesia memperkenalkan Corporate Wellbeing Awards 2026. Inisiatif ini ditujukan untuk mengapresiasi perusahaan yang menerapkan praktik pendukung kesehatan fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan.
Penghargaan tersebut juga mendorong perusahaan membangun lingkungan kerja yang inklusif dan berkelanjutan.
Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan ketahanan tenaga kerja kini menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Menurutnya, perusahaan menghadapi tantangan untuk menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas karyawan di tengah risiko bisnis yang semakin kompleks.
Kesehatan jangka panjang juga menjadi perhatian dalam membangun tenaga kerja yang tangguh. Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menyampaikan bahwa upaya menjaga kesehatan perlu dilakukan sejak seseorang masih sehat.
Salah satu langkah yang dapat diterapkan adalah perilaku CERDIK, yang mencakup pemeriksaan kesehatan berkala, menghindari asap rokok, aktivitas fisik, pola makan seimbang, istirahat cukup, dan pengelolaan stres.
Sementara itu, CEO dan Co-Founder Halodoc Jonathan Sudharta menyoroti hubungan kesehatan mental dan fisik. Ia menyebut konsultasi terkait gangguan kecemasan di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Zurich menyatakan inisiatif tersebut diharapkan mendorong perusahaan memandang kesejahteraan karyawan sebagai investasi strategis untuk memperkuat ketahanan tenaga kerja dan daya saing bisnis.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: