Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Investor kawakan Lo Kheng Hong mengungkap lima kriteria utama yang digunakannya sebelum membeli saham. Investor yang dijuluki Warren Buffett Indonesia tersebut juga menyebut tiga sektor usaha yang menarik perhatiannya untuk investasi jangka panjang, yakni perbankan, batu bara, dan kelapa sawit.
Dalam memilih saham, Lo menekankan pentingnya memahami fundamental perusahaan, mulai dari kualitas manajemen, kemampuan menghasilkan laba, pertumbuhan keuntungan, hingga valuasi saham. Ia mengingatkan investor agar tidak membeli saham hanya karena mengikuti pergerakan harga atau rekomendasi pihak lain.
Salah satu langkah yang selalu dilakukannya adalah mempelajari laporan tahunan atau annual report untuk mengetahui kondisi keuangan, struktur kepemilikan, serta pengelolaan perusahaan.
"Saya sebelum membeli sebuah perusahaan, tentu saya akan lihat annual report-nya. Saya tidak mau beli kucing dalam karung, jadi saya harus tahu apa yang saya beli," ujar Lo Kheng Hong dalam seminar utama Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, dikutip Sabtu (7/11/2026).
Melalui pendekatan tersebut, Lo berupaya menemukan perusahaan berkualitas dengan prospek bisnis menjanjikan, tetapi sahamnya masih diperdagangkan pada harga relatif murah.
Berikut lima kriteria saham yang menjadi pertimbangannya, antara lain:
1. Manajemen Jujur dan Kompeten
Kriteria pertama adalah kualitas manajemen perusahaan. Lo Kheng Hong mengutamakan perusahaan yang dikelola oleh orang-orang berintegritas dan memiliki kemampuan menjalankan bisnis secara profesional.
Untuk menilai hal tersebut, ia mempelajari latar belakang pemegang saham mayoritas, direksi, dan komisaris melalui laporan tahunan perusahaan.
Menurutnya, kualitas pengelolaan menjadi faktor penting karena kinerja keuangan yang baik harus ditopang oleh manajemen yang dapat dipercaya.
2. Berada di Sektor Usaha Prospektif
Lo juga memperhatikan prospek industri tempat perusahaan beroperasi. Ia cenderung memilih bisnis yang memiliki peluang pertumbuhan jangka panjang dan mampu mempertahankan daya saing.
Sebaliknya, ia lebih berhati-hati terhadap perusahaan yang produknya harus bersaing langsung dengan barang asal China, terutama ketika persaingan harga berlangsung ketat.
Ia justru tertarik pada bisnis berbasis komoditas yang memiliki permintaan dari berbagai negara, seperti batu bara dan kelapa sawit. Kedua komoditas tersebut memiliki pasar ekspor dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi maupun industri.
3. Mampu Menghasilkan Laba Besar
Kemampuan menghasilkan keuntungan menjadi kriteria berikutnya. Lo mengaku tidak tertarik membeli saham perusahaan yang terus merugi atau hanya mencetak laba dalam jumlah kecil.
"Kalau perusahaan yang rugi, saya tidak mau beli. Perusahaan yang untungnya kecil, saya juga tidak mau beli. Yang saya mau beli hanya perusahaan yang untungnya besar," jelasnya.
Bagi Lo, perusahaan yang mampu menghasilkan laba besar memiliki potensi menciptakan nilai ekonomi bagi pemegang saham. Karena itu, besarnya keuntungan menjadi salah satu aspek utama yang diperiksanya ketika membaca laporan keuangan.
4. Pertumbuhan Laba Berkelanjutan
Lo tidak hanya melihat besarnya keuntungan perusahaan dalam satu periode. Ia juga menilai kemampuan perusahaan meningkatkan laba secara berkelanjutan dari tahun ke tahun.
Sebagai gambaran, ia mencontohkan perusahaan yang labanya meningkat dari Rp1 triliun menjadi Rp1,5 triliun, kemudian tumbuh menjadi Rp2 triliun dan terus bertambah pada periode berikutnya.
Pertumbuhan laba menjadi salah satu indikator untuk menilai perkembangan bisnis. Namun, investor juga perlu memeriksa sumber pertumbuhan tersebut, termasuk apakah berasal dari kegiatan operasional utama atau keuntungan yang bersifat tidak berulang.
5. Valuasi Murah dan Dividend Yield Tinggi
Kriteria terakhir adalah harga saham yang menarik dibandingkan dengan fundamental perusahaan. Lo mengutamakan perusahaan berkualitas yang sahamnya diperdagangkan pada valuasi relatif rendah.
Dalam menilai valuasi, ia memperhatikan rasio price to earnings (P/E) dan price to book value (PBV). P/E membandingkan harga saham dengan laba per saham, sedangkan PBV membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku per saham.
Selain valuasi, Lo juga memperhatikan dividend yield atau tingkat imbal hasil dividen.
"Kalau dapat dividend yield yang tinggi sampai 14 persen, itu nikmat kita sebagai sleeping shareholder. Tidak kerja, dapat gajian," ungkapnya.
Meski demikian, tingkat dividend yield yang tinggi perlu dilihat bersama kemampuan perusahaan mempertahankan laba dan arus kas untuk membiayai pembayaran dividen.
Tiga Sektor Incaran Lo Kheng Hong
Selain lima kriteria tersebut, Lo Kheng Hong menyebut tiga sektor yang menjadi perhatiannya dalam mencari peluang investasi, yaitu perbankan, batu bara, dan kelapa sawit.
Sektor perbankan menjadi salah satu bidang usaha yang diperhitungkannya. Sementara itu, batu bara dan kelapa sawit menarik karena menghasilkan komoditas yang memiliki permintaan dari pasar internasional.
Khusus kelapa sawit, Lo menilai Indonesia memiliki keunggulan geografis dan iklim yang mendukung kegiatan perkebunan. Ia juga menyoroti kebutuhan minyak sawit dari negara berpenduduk besar seperti China dan India.
"Kelapa sawit itu tidak bisa ditanam di Tiongkok dan India. Jadi, dua miliar penduduk Tiongkok, dua miliar penduduk India, dan seluruh negara yang lain harus membeli dari kita," kata Lo.
Menurutnya, karakteristik tersebut membuat bisnis kelapa sawit memiliki pasar luas untuk memenuhi kebutuhan pangan dan industri.
Meski tertarik pada ketiga sektor tersebut, Lo tetap menempatkan kualitas perusahaan dan harga pembelian sebagai pertimbangan utama. Saham dari sektor yang dinilai prospektif tidak otomatis menjadi pilihan apabila fundamental perusahaan kurang baik atau valuasinya sudah terlalu tinggi.
Lima kriteria tersebut merupakan pendekatan investasi yang dibagikan Lo Kheng Hong, bukan jaminan bahwa saham yang memenuhi kriteria tersebut akan menghasilkan keuntungan. Investor tetap perlu memperhitungkan risiko bisnis, perubahan harga komoditas, kondisi ekonomi, dan fluktuasi pasar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: