Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Keras, Resimen Azov dari Ukraina yang Terkenal Diseret Rusia ke Pengadilan

Keras, Resimen Azov dari Ukraina yang Terkenal Diseret Rusia ke Pengadilan Kredit Foto: Reuters/Oleksandr Ratushniak
Warta Ekonomi, Moskow -

Majelis rendah parlemen Rusia mengatakan sejumlah anggota Resimen Azov dari Ukraina akan dibawa ke pengadilan. Hal ini disampaikan satu hari setelah Mahkamah Agung Rusia menunda putusan apakah unit tersebut adalah entitas teroris.

Dalam unggahannya di Telegram, Kamis (30/6/2022) Ketua Duma Vyacheslav Volodin mengatakan Rusia akan menggelar "penyelidikan substansial" pada anggota resimen Azov untuk menentukan "siapa yang terlibat dalam apa."

Baca Juga: Mantan Dubes Indonesia untuk Amerika Buka-bukaan Soal Jokowi ke Ukraina-Rusia: Gak Efektif Jika...

Sekutu Presiden Vladimir Putin itu mengatakan mereka yang bertekad "memiliki darah di tangannya" akan menghadapi persidangan.

Resimen Azov bagian dari Garda Nasional Ukraina yang dibentuk pada 2014. Mereka merupakan salah satu milisi sukarela yang bertempur melawan separatis pro-Rusia di wilayah Donbas, Ukraina timur.

Pasukan Azov dianggap pahlawan karena melawan prajurit Rusia yang mengepung Kota Mariupol selama berminggu-minggu.

Nasionalis kulit putih

Milisi itu awalnya muncul dari organisasi politik yang mendukung gagasan nasionalis kulit putih. Kiev mengatakan kini milisi itu sudah menjauh dari ideologi asalnya dan tidak ada hubungannya dengan politik.

Rusia mengatakan mereka masih merupakan kelompok neo-Nazi berbahaya. Moskow ingin menghancurkan unit tersebut dalam perangnya di Ukraina.

Sebanyak 43 anggota resimen itu dibebaskan dalam pertukaran tahanan antara Rusia dan Ukraina pada Rabu (29/6/2022) kemarin. Kiev berharap Rusia dapat membebaskan lebih banyak kombatan.

"(Pertukaran tahanan menyangkut) mereka yang terluka parah dan tidak dapat berpartisipasi dalam pertempuran," kata Volodin di pernyataannya mengenai tukar tahanan tersebut.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan mereka memiliki  6.000 lebih prajurit Ukraina yang tertangkap atau menyerah dalam perang. Mahkamah Agung Rusia menunda sidang untuk menetapkan apakah resimen Azov adalah entitas teroris. Langkah yang membuka jalan untuk sidang.

Kerabat tentara Ukraina mengajukan hak mereka yang dilindungi Konvensi Jenewa 1949. Konvensi itu menyatakan tahanan perang harus diperlakukan manusiawi dan segera dibebaskan atau dipulangkan setelah pertempuran aktif mereda.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan