Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Menakar Keinginan Lebih dari 70% Orang Amerika Dukung Dialog Nuklir Iran

Menakar Keinginan Lebih dari 70% Orang Amerika Dukung Dialog Nuklir Iran Kredit Foto: Reuters/Carlos Barria
Warta Ekonomi, Washington -

Lebih dari tiga perempat orang Amerika Serikat berpikir negaranya harus melakukan negosiasi untuk mencegah Iran memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir, menurut survei yang dilakukan oleh Yayasan Grup Eurasia nonpartisan bulan lalu yang akan dirilis pada Rabu (5/10/2022).

Survei tersebut menanyakan 2.002 orang dewasa Amerika antara 2 dan 8 September tentang kebijakan luar negeri AS dan peran global Amerika.

Baca Juga: Diminta Berpikir Lagi, Joe Biden Ditagih Iran Urus Masalah HAM di Amerika Dulu

Ditemukan 78,8% responden, meningkat dari tahun lalu, berpikir Washington harus terus mengejar pembicaraan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dalam waktu dekat.

Dipecah berdasarkan afiliasi partai, survei menemukan bahwa 88,0% Demokrat mendukung negosiasi semacam itu, seperti halnya 76,9% independen dan 71,8% Republik setelah survei memberi tahu mereka bahwa Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan awal pada 2018.

Ditanya tahun lalu tentang kesepakatan nuklir, 62,6% secara keseluruhan mengatakan Washington harus menghidupkan kembali negosiasi nuklir.

"Lebih dari 70% dari Partai Republik percaya AS harus terus mengejar negosiasi nuklir dengan Iran, menunjukkan para pemimpin dan kandidat terpilih yang secara vokal mengkritik negosiasi mungkin tidak sejalan dengan banyak pemilih mereka," kata laporan itu, yang ditinjau oleh Reuters, sebelum publikasi.

Banyak senator Republik membenci pakta nuklir dan beberapa rekan Demokrat Presiden AS Joe Biden menentangnya.

Pembicaraan tidak langsung untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015, yang membatasi aktivitas pengayaan uranium Iran untuk mempersulit Teheran mengembangkan senjata nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi, telah terhenti.

Kemudian-AS Presiden Donald Trump membatalkan kesepakatan pada 2018, dengan mengatakan itu tidak cukup untuk mengekang kegiatan nuklir Iran, program rudal balistik dan pengaruh regional, dan menerapkan kembali sanksi AS yang telah melumpuhkan ekonomi Iran.

Baca Juga: PAN Jateng Dukung Pencapresan Ganjar Pranowo, Pengamat: Bisa Dapat Tiket Capres KIB

Baca Juga: Lihat Anies Pakai Private Jet, Ferdinand Hutahean: Dia Salah Satu Oligarki Migas?

Editor: Muhammad Syahrianto

Advertisement

Bagikan Artikel: