Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Kick-off Hilirisasi Rp618 Triliun, 6 Proyek Raksasa Groundbreaking Januari 2026

Kick-off Hilirisasi Rp618 Triliun, 6 Proyek Raksasa Groundbreaking Januari 2026 Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mempercepat pelaksanaan 18 proyek strategis nasional (PSN) sektor hilirisasi dengan total nilai investasi mencapai USD38,63 miliar atau setara Rp618 triliun. Presiden RI menginstruksikan agar seluruh proyek tersebut segera memasuki tahap eksekusi lapangan pada awal 2026 sebagai bagian dari percepatan pembangunan industri nasional.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa Presiden menargetkan percepatan luar biasa pada 2026, khususnya terhadap proyek-proyek hilirisasi yang dikelola bersama Danantara Indonesia. Dari total 18 proyek, sebanyak enam proyek prioritas dijadwalkan memulai pembangunan melalui peletakan batu pertama pada Januari 2026.

"Bapak Presiden menghendaki untuk dilakukan percepatan-percepatan. Beliau minta sisanya bisa dikejar supaya di bulan Februari atau maksimal bulan Maret, 18 proyek tersebut sudah bisa dilaksanakan seluruhnya," ujar Prasetyo, di Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Baca Juga: Danantara Segera Groundbreaking Lima Proyek Hilirisasi Senilai Rp100 Triliun

Salah satu proyek prioritas yang segera dieksekusi adalah pengembangan fasilitas waste to energy di 34 kabupaten/kota. Proyek ini menyasar daerah yang menghasilkan sampah lebih dari 1.000 ton per hari dan dinilai memerlukan penanganan segera untuk mencegah dampak lingkungan dan sosial.

“Contoh yang pertama adalah berkenaan dengan Waste to Energy yang akan dibangun di 34 kabupaten/kota atau di 34 titik yang hari ini sampahnya sudah mencapai 1.000 ton lebih per hari. Ini memerlukan penanganan sesegera mungkin untuk diolah sehingga sampah-sampah tersebut tidak menggunung dan menimbulkan banyak masalah,” kata Prasetyo.

Selain waste to energy, pemerintah juga memprioritaskan proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi impor LPG. Proyek ini dipandang strategis untuk menekan ketergantungan impor energi yang terus meningkat.

Prasetyo menambahkan, dari total investasi yang digelontorkan, sekitar 67 persen dialokasikan di luar Pulau Jawa sebagai bagian dari upaya pemerataan pembangunan. Presiden juga meminta seluruh kementerian dan lembaga meninggalkan ego sektoral demi kelancaran pelaksanaan proyek lintas generasi tersebut.

"Bapak Presiden juga memberikan penekanan kepada kita semua untuk terus memperkuat kerjasama di antara lintas kementerian. Beliau berharap kita meninggalkan kepentingan-kepentingan pribadi untuk secepat-cepatnya mencari titik temu apabila terjadi permasalahan," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan proyek industri DME masih dalam tahap pendalaman teknis bersama Menteri Investasi Rosan Roeslani, meski telah masuk dalam daftar percepatan.

"Kasihkan saya waktu untuk satu bulan lagi untuk mendetailkan. Saya dengan Pak Rosan nanti akan menyelesaikan dalam kurun waktu satu bulan," kata Bahlil.

Baca Juga: Pemerintah Gas Pol Hilirisasi di Awal Tahun, Enam Proyek Groundbreaking di Januari

Berdasarkan catatan Warta Ekonomi, lima dari enam proyek yang dijadwalkan memulai konstruksi pada Januari 2026 meliputi Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, pabrik bioavtur di Cilacap, pabrik bioetanol di Banyuwangi, industri DME sebagai substitusi LPG, serta proyek waste to energy.

Secara keseluruhan, 18 proyek prioritas yang dikejar hingga Maret 2026 mencakup sektor mineral, batu bara, energi, manufaktur, hingga pangan, dengan lokasi tersebar dari Sumatra hingga Papua, termasuk industri aluminium, aspal Buton, mangan sulfat, stainless steel slab, modul surya terintegrasi, kilang minyak, hingga pengolahan perikanan. 

Berdasarkan catatan Warta Ekonomi terkini, 5 dari 6 proyek yang dijadwalkan memulai konstruksi pada Januari ini meliputi:

  1. Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah.
  2. Pabrik Bioavtur di Cilacap.
  3. Pabrik Bioetanol di Banyuwangi.
  4. Industri DME - LPG (Substitusi Energi).
  5. Waste to Energy.

Adapun secara keseluruhan, terdapat 18 proyek prioritas yang akan terus dikejar penyelesaiannya hingga Maret 2026, yang meliputi:

Sektor Mineral, Batu Bara, dan Energi:

  1. Industri Smelter Aluminium (Bauksit): Lokasi di Mempawah, Kalimantan Barat.

  2. Industri Chemical Grade Alumina (Bauksit): Lokasi di Kendawangan, Kalimantan Barat.

  3. Industri DME (Gasifikasi Batu Bara): Berlokasi di 6 titik (Bulungan, Kutai Timur, Kota Baru, Muara Enim, Pali, dan Banyuasin).

  4. Industri Aspal (Aspal Buton): Lokasi di Buton, Sulawesi Tenggara.

  5. Industri Mangan Sulfat (Mangan): Lokasi di Kupang, NTT.

  6. Industri Stainless Steel Slab (Nikel): Berpusat di Kawasan Industri Morowali, Sulteng.

  7. Industri Copper Rod, Wire & Tube (Tembaga): Lokasi di Gresik, Jawa Timur.

  8. Industri Besi Baja (Pasir Besi): Lokasi di Kabupaten Sarmi, Papua.

  9. Modul Surya Terintegrasi: Berlokasi di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah.

  10. Industri Bioavtur: Meliputi wilayah Marunda, Cikarang, dan Karawang.

  11. Oil Refinery & Storage Tanks: Proyek tersebar merata dari Lhokseumawe hingga Fakfak.

  12. Pabrik Bioetanol: Berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur.

  13. Waste to Energy (PLTSa): Implementasi serentak di 34 Kabupaten/Kota.

  14. Industri Oleoresin (Pala): Berpusat di Fakfak, Papua Barat.

  15. Industri Oleofood (Kelapa Sawit): Berlokasi di KEK Maloy Batuta Trans Kalimantan (MBTK), Kaltim.

  16. Industri Olahan Kelapa: Lokasi di Kawasan Industri Tenayan, Riau.

  17. Industri Chlor Alkali Plant (Garam): Proyek lintas wilayah dari Aceh, Jawa Timur, hingga NTT.

  18. Industri Fillet Tilapia & Carrageenan: Proyek strategis di Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga NTT.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait:

Advertisement

Bagikan Artikel: